Aplikasi Health Belief Model Pada Perilaku Pencegahan Demam Berdarah Dengue

 




NAMA : RACHEL RACHMADITA KASIM

KELAS : C SEMESTER 2

NIM : 811421008

DASAR PROMOSI KESEHATAN

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT

 

Aplikasi Health Belief Model Pada Perilaku Pencegahan Demam Berdarah Dengue

 

Health belief model adalah suatu model yang digunakan untuk menggambarkan kepercayaan individu terhadap perilaku hidup sehat, sehingga individu akan melakukan perilaku sehat, perilaku sehat tersebut dapat berupa perilaku pencegahan maupun penggunaan fasilitas kesehatan.Health belief model ini sering digunakan untuk memprediksi perilaku kesehatan preventif dan juga respon perilaku untuk pengobatan pasien dengan penyakit akut dan kronis.Namun akhir-akhir ini teori Health belief model digunakan sebagai prediksi berbagai perilaku yang berhubungan dengan kesehatan.

Konsep utama dari health belief model adalah perilaku sehat ditentukan oleh kepercaaan individu atau presepsi tentang penyakit dan sarana yang tersedia untuk menghindari terjadinya suatu penyakit. Health belief model (HBM) awalnya dikembangkan pada tahun 1950an Oleh sekelompok psikolog sosial di Pelayanan Kesehatan Masyarakat Amerika Serikat, dalam usaha untuk menjelaskan kegagalan secara luas partisipasi masyarakat dalam program pencegahan atau deteksi penyakit. Kemudian, model diperluas untuk melihat respon masyarakat terhadap gejala-gejala penyakit dan bagaimana perilaku mereka terhadap penyakit yang didiagnosa, terutama berhubungan dengan pemenuhan penanganan medis.

Demam Berdarah merupakan penyakit disebabkan oleh virus dengue dengan gejala demam  akut,  dengan  caramasuk  ke  peredaran darah   manusia   melalui   gigitan   nyamuk   dari genus    Aedes. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) telah menyebar luas keseluruh wilayah   provinsidi   Indonesia. Penyakit ini sering  muncul sebagai KLB dengan angka kesakitan dan   kematian yang relatif  tinggi. Angka insiden DBD secara nasional berfluktuasi dari tahun ke tahun.

Jumlah kasus DBD di Indonesia memiliki kecenderungan mengalami peningkatan.   Berdasarkan laporan Kemenkes tahun 2014 jumlah kasus yang  dilaporkan di Indonesia sebanyak   100.347, serta IR/angka kesakitan sebesar  40 per  100.000  penduduk. Sedangkan tahun 2015,    jumlah kasusnya meningkat sebanyak 129.650 dengan angka IR/angka kesakitan sebesar 51 per   100.000 penduduk. Padahal dalam renstra Kemenkes untuk angka kesakitan DBD tahun 2015 sebesar <49 per 100.000 penduduk.

Konsep Health Belief Model memberikan gambaran bahwa terdapat 5 variabel independen yang diteliti utnuk dilihat hubungan dengan variabel dependen berupa upaya pencegahan DBD.

1.      (Perceived Susceptibility) kerentanan yang dirasakan. Penelitian ini melihat kerentanan     dengan memunculkan pendapat pada instrumen berupa: anggapan kerentaan  pada saat  berada  kondisi lingkungan tertentu,  kerentanan pada seluruh   usia dan seluruh orang,    dan kerentanan bila tidak melakukan upaya perlindungan DBD. Anggapan    dikategorikan menjadi tingkatan mulai tidak rentan, cukup rentan, dan rentan.

2.      (Perceived Severity) keparahan yang dirasakan. Pengukuran keparahan dilihat pada    anggapan bahwa DBD bisa menyebabkan kematian, dan kerugian   yang didapat,   serta   penilaian   pada   akibat   yang ditimbulkan  dari  DBD.  Anggapan  keparahan pada  DBD  dikategorikan  mulai  tidak  parah, cukup parah, dan parah.

3.      (Cues to action) Isyarat untuk melakukan tindakan. Penelitian ini mengaktegorikan  isyarat mulai tingkatan tidak pernah, jarang  dan selalu  mendapatkan  isyarat melakukan  tindakan.  Isyarat  dalam  instrumen penelitian  memberikan  pilihan   pada   hal-hal yang  mengingatkan melakukan tindakan mulai dari media massa, elektronik, dan non elektronik.

4.      (Perceived  Benefits) Manfaat yang dirasakan (Perceived  Benefits). Faktor  persepsi  manfaat diperoleh berdasarkan instrumen yang menanyakan tentang anggapan manfaat   dari melakukan pencegahan DBD. Baik 3M (Menguras,  mengubur,  dan  menutup)  dan  plus berupa  tambahan  berupa  memakai  pelindung diri saat tidur dan sebagainya. Persepsi manfaat akan  dikategorikan  menjadi  3  yaitu,  anggapan tidak    bermanfaat,    cukup bermanfaat, dan bermanfaat.

5.      (Perceived  Barriers) Hambatan yang dirasakan (Perceived  Barriers) Variabel  ini  merupakan lawan daripersepsi manfaat. Persepsi hambatan menggambarkan  beberapa  kendala yang dirasa oleh subjek penelitian. Instrumen penelitian ini akan  menggambarkan bentuk persetujuan pada hambatan-hambatan untuk melakukan  tindakan pencegahan DBD. Persepsi hambatan dikategorikan  menjadi  tidak  hambatan,  cukup menjadi hambatan, dan hambatan.

 

Kerangka konsep diatas juga menjelaskan bahwa terdapat variabel yang dapat  mempengaruhi  sebuah  kepercayaan  atau persepsi seseorang secara tidak lansung. Variabel  tidak  lansung  meliputi  umur,  budaya, ekonomi,  serta  kepercayaan  dan  kesanggupan diri.

Hubungan     Faktor     Persepsi     Kerentanan dengan Upaya pencegahan DBD

Persepsi  kerentanan sebetulnya mengacu penilaian  subjektif  dari  risiko  terhadap  masalah kesehatan.  Individu yang percaya bahwa mereka memiliki  risiko  yang  rendah  terhadap  penyakit lebih  mungkin  untuk  melakukan  tindakan  yang tidak   sehat, dan   individu yang memandang memiliki risiko tinggi mereka akan lebih mungkin untuk    melakukan perilaku untuk mengurangi risiko terserang penyakit (Onoruoiza, 2015)

Beberapa kondisi menjelaskan bahwa persepsi peningkatan kerentanan akan mempunyai hubungan yang kuat dengan perilaku yang  lebih  sehat, dan penurunan kerentanan untuk  perilaku yang  lebih  tidak  sehat.  Namun, dalam  kondisi  tertentu  konsep  ini  tidak  selalu terjadi. (Courtenay,  1998).  Hasil  ini  juga selarasdengan hasil   penelitian   yang   dilakukan   oleh Widodo (2009) di lokalisasi Koplak Grobogan, bahwa semakin rendah persepsi kerentanan seseorang, semakin rendah pula upaya pencegahan penyakit. Begitu juga  sebaliknya. Hal ini  semakin  menguatkan  bahwa  hubungan persepsi kerentanan berbanding lurus dengan tindakan kesehatan, jika dalam penelitian ini maka  berupa upaya pencegahan  DBD. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa   persepsi kerentanan  terdapat  hubungan  dengan  tindakan pencegahan DBD

Hubungan Faktor Persepsi Keparahan dengan Upaya pencegahan DBD

Penilaian pada keparahan    membahas kepada  kepercayaan  individu  tentang  keparahan dari  sebuah  penyakit.  Persepsi  keparahan  sering berdasarkan informasi kedokteran atau pengetahuan  lain.  Terdapat  kemungkinan  juga akan  datang  dari  kepercayaan  seseorang  tentang tingkat sebuah penyakit yang menghasilkan dampak pada kehidupan secara umum.   (Mc Cormick Brown, 1999).

 

Hubungan Faktor Isyarat Melakukan Tindakan dengan Upaya Pencegahan DBD

tingkat keaktifan mencari informasi melalui segala bentuk media indormasi baik   langsung maupun tak langsung seperti teman,  penyuluhan, petugas kesehatan, media cetak maupun elektronik memengaruhi cara menjaga kebersihan higiene. Semakin tinggi keaktifan  dan memperoleh informasi semakin baik menjaga kebersihan higiene. Sehingga dapat   disimpulkan bahwa isyarat melakukan tindakan menjadi pengaruh yang kuat untuk melakukan tindakan kesehatan

Hubungan  Faktor  Persepsi  Manfaat  dengan Upaya Pencegahan DBD

Menurut Conner dan Norman (2012) bahwa hubungan persepsi hambatan dengan perilaku sehat adalah negatif. Artinya bahwa jika persepsi hambatan terhadap perilaku sehat tinggi maka perilaku sehat tidak akan dilakukan.Terdapat beberapa hal yang menjadi faktor pendukung  dalam  penilaian  persepsi  hambatan, diantaranya  anggapan  hambatan  pada  pelayanan kesehatan  sulit  diakses,  lingkungan  yang  sulit untuk diubah, obat anti nyamuk sangat merepotkan dan tidak  terbiasa,  serta  tindakan memasang kelambu ditempat tidur membutuhkan biaya yang mahal dan mengganggu. Beberapa hal yang  menyebabkan iklim pada waktu tertentu. Berbeda ketika    musim kemarau yang relatif suhu tinggi sehingga menggunakan kelambu, obat nyamuk saat tidur dan lain-lain menjadi hambatan tersendiri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penerapan Teori Taksonomi Bloom Terhadap Perilaku Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan yang Sehat

APLIKASI TEORI HBM (HEALTH BELIEF MODEL) DALAM KASUS PENYADARAN AKAN PENTINGNYA MENJAGA KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA

DIFUSI INOVASI KESEHATAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM JAMBAN ARUM (ANTAR KE RUMAH)