Aplikasi Theory Reaction Actions (TRA) di Bidang Kesehatan (dalam masalah penggunaan Napza)

 


Nama: Retno Galuh Pratiwi

Nim: 811421143

Kelas/Semester: C, Semester 2 S1 Kesehatan Masyarakat

Mata Kuliah: Promosi Kesehatan

Dosen Pengampuh: Ramly Abudi S.Psi, M.Kes

 

Aplikasi Theory Reaction Actions (TRA) di Bidang Kesehatan

(dalam masalah penggunaan Napza)

    Menurut Theory of Reasoned Action (TRA), perilaku seseorang dipengaruhi oleh niat, sedangkan niat dipengaruhi oleh sikap dan norma subyektif. Sikap sendiri dipengaruhi oleh keyakinan akan hasil dari tindakan yang telah lalu.

    Norma subyektif dipengaruhi oleh keyakinan akan pendapat orang lain serta motivasi untuk mentaati pendapat tersebut. Secara lebih sederhana, teori ini mengatakan bahwa seseorang akan melakukan suatu perbuatan apabila ia memandang perbuatan itu positif dan bila ia percaya bahwa orang lain ingin agar ia melakukannya

    Komponen – komponen TRA:

1.Keyakinan Perilaku (Behaviour Belief)

    Mengacu pada keyakinan bahwa perilaku akan menghasilkan suatu keluaran atau keyakinan terhadap adanya konsekuensi karena melakukan perilaku tertentu, disini seseorang akan mempertimbangkan untung atau rugi dari perilaku tersebut.

2.Evauasi Konsekuensi (Evaluation of the Consequency)

   Evaluasi konsekuensi merupakan evaluasi seseorang terhadap keluaran atau evaluasi terhadap konsekuensi dari keyakinan perilaku dengan mempertimbangkan pentingnya konsekuensi – konsekuensi yang akan terjadi bagi individu bila ia melakukan perilaku tersebut.

3.Sikap (Attitude)

   Menurut Fishbein & Ajzein (1991), sikap adalah perasaan individu positif atau negatif tentang melakukan suatu perilaku. Hal ini ditentukan melalui penilaian dari keyakinan seseorang mengenai konsekuensi yang timbul dari perilaku dan evaluasi dari keinginan tersebut. Faktor sikap merupakan point penentu perubahan perilaku yang ditunjukkan oleh perubahan sikap seseorang dalam menghadapi sesuatu. Perubahan sikap tersebut dapat berbentuk penerimaan ataupun sebaliknya, penolakan. Sikap terhadap perilaku dibentuk oleh  Behavioral Belief (keyakinan perilaku) dan  Evaluation of the Consequency (evaluasi konsekuensi).

4.Keyakinan Normatif (Normative Belief)

   Keyakinan normative mencerminkan dampak dari norma–norma subyektif dan norma sosial yang mengacu pada keyakinan seseorang terhadap bagaimana dan apa yang dipikirkan orang–orang yang dianggap penting oleh individu.

5.Motivasi untuk Taat (Motivation to Comply)

   Menurut Ajzen (2007), norma subjektif adalah sejauh mana seseorang memiliki motivasi untuk mengikuti pandangan orang terhadap perilaku yang akan dilakukannya (normative belief). Kalau individu merasa itu adalah hak pribadinya untuk menentukan apa yang akan dia lakukan, bukan ditentukan oleh orang lain di sekitarnya, maka dia akan mengabaikan pandangan orang tentang perilaku yang akan dilakukannya. Norma subjektif (subjective norms) dibentuk oleh  Normative Belief (keyakinan normatif) dan  Motivation to Comply (Motivasi untuk taat). Dorongan anggota keluarga, termasuk kawan terdekat juga mempengaruhi agar seseorang dapat menerima perilaku tertentu, yang kemudian diikuti dengan saran, nasehat dan motivasi dari keluarga atau kawan. Kemampuan anggota keluarga atau kawan terdekat mempengaruhi seorang individu untuk berperilaku seperti yang mereka harapkan diperoleh dari pengalaman, pengetahuan dan penilaian individu tersebut terhadap perilaku tertentu dan keyakinannya melihat keberhasilan orang lain berperilaku seperti yang disarankan.

6.Niat Berperilaku (Behavioural Intention)

   Niat ditentukan oleh sikap, norma pentingdalam masyarakat dan norma subjektif. Komponen pertamamengacu pada sikap terhadap perilaku. Sikap ini merupakan hasil pertimbangan untung dan rugi dari perilaku tersebut (outcome of behavior). Disamping itu juga dipertimbangkan pentingnya konsekuensi-konsekuensi yang akan terjadi bagi individu (evaluation regarding of the outcome). Komponen ke dua mencerminkan dampak dari norma-norma subjektif dan norma sosial yang mengacu pada keyakinan seseorang terhadap bagaimana danapa yang dipikirkan orang-orang yang dianggap penting dan motivasi seseorang untuk mengikuti pikiran tersebut.

7.Perilaku (Behaviour)

   Perilaku adalah sebuah tindakan yang telah dipilih seseorang untuk ditampilkan berdasarkan atas niat yang sudahterbentuk. Perilaku merupakan transisi niat atau kehendak ke dalam tindakan. Berikut contoh Aplikasi Theory Reaction Actions (TRA) di Bidang Kesehatan (dalam masalah penggunaan Napza) :

Seorang pengguna NAPZA suntik percaya bahwa berkunjung ke klinik VCT memberikan manfaat bagi orang yang berisiko HIV/AIDS seperti mendapat informasi tentang penggunaan NAPZA suntik yang aman (keuntungan), tetapi juga akan dijauhi teman-teman sesama pengguna NAPZA suntik (kerugian).Pengguna NAPZA suntik akan mempertimbangkan manayang paling penting diantara keduanya. Kemudian ia juga akan mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi setelah melakukan VCT, seperti setelah melakukan VCT dan dinyatakan HIV positif,ia tidak diperbolehkan untuk bekerja meskipun mampu untuk bekerja. Nilai dan norma dilingkungan masyarakat tidak mendeskriminasi pengguna NAPZA suntik setelah berkunjung keklinik VCT. Orang yang dianggap penting (teman sesama pengguna NAPZA suntik yang telah berkunjung ke klinik VCT) setuju (atau sebatas menasihati) untuk berkunjung ke klinik VCT dan pengguna NAPZA suntik termotivasi untuk patuh mengikuti petunjuk tersebut, maka terdapatkecenderungan positif berniat untuk berkunjung ke klinik VCT.

 

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penerapan Teori Taksonomi Bloom Terhadap Perilaku Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan yang Sehat

APLIKASI TEORI HBM (HEALTH BELIEF MODEL) DALAM KASUS PENYADARAN AKAN PENTINGNYA MENJAGA KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA

DIFUSI INOVASI KESEHATAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM JAMBAN ARUM (ANTAR KE RUMAH)