DIFUSI INOVASI DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT AKAN KELESTARIAN LINGKUNGAN

 


Nama : Khairunnisa Lamalani

Nim : 811421204

Kelas : C

S1 KESEHATAN MASYARAKAT

KELOMPOK 4 “DIFUSI DAN INOVASI”


DIFUSI INOVASI DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT AKAN KELESTARIAN LINGKUNGAN


Permasalahan lingkungan yang melanda Kota Bandung, khususnya mengenai kebersihan sungai Cikapundungmerupakan sebuah permasalahan yang dilematis. Sebab di tengah ramainya problematika sosial dan ekonomi yang terjadi di masyarakat, isu tentang perusakan lingkungan seringkali terlupakan oleh masyarakat. Padahal lingkungan (alam) merupakan salah satu faktor utama proses sosialisasi antara satu individu dengan individu yang lain. Hal ini makin diperparah dengan kondisi peranan pemerintah yang kurang maksimal dalam memberikan penanganan. Alhasil lingkunganselalu menjadi masalah bagi masyarakat yang tinggal disekitanya, dikarenakan sering terjadinya banjir atau mengurangnya defisit air bersih saat musim kemarau tiba.Sebagaimana yang tertera pada Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 27 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kebersihan di kota Bandung yang merupakan tanggung jawab pemerintah dan juga masyarakat. Maka disana tertera secara jelas, bahwa masyarakat memiliki peran yang bertanggung jawab dalam menjaga dan memelihara kelestarian. Sehingga bagi mereka yang melanggar, menurut Peraturan Daerah K3 Nomor 11 tahun 2005 pasal 45 ayat 1 terdapat sebuah aturan berupa sanksi berupa denda. Namun, hal ini tidak membuat masyarakat menjadi jera dan berubah, yang akhirnya peraturan tersebut hanya berupa simbol saja bagi masyarakat. Berangkat dari problematika tersebut, sekelompok individu di RW 13 Tamansari mencoba merubah situasi lingkungan yang sudah carut marut akibat pencemaran lingkungan melalui ide-idenya untuk menyadarkan warga itu sendiri. Tumbuhnya kelompok masyarakat yang peduli tentang kebersihan lingkungan di dalam sistem sosial masyarakat, merupakan sebuah harapan baru bagi kita dalam melestarian lingkungan. Khususnya untuk masyarakat perkotaan yang sering kali disibukan oleh permasalahan pemenuhan kebutuhan hidup. Hal ini dibuktikan dari hasil studi pendahuluan dan observasi awal, bahwa semenjak terbentuknya komunitas Kuya Tilubelas terdapat peningkatan kepedulian terhadap kebersihan sungai yang cukup signifikan dari warga RW 13 dan warga Kelurahan Tamansari yang lain tehadap masalah lingkungan, bahkan munculnya komunitas peduli lingkungan menjadi inspirasi RW-RW lain untuk membentuk hal yang serupa. Melalui konsep konservasi lingkungan, komunitas mengajak masyarakat melakukan upaya perubahan dengan cara berpartisipasi bersama komunitas menyelamatkan dan mengelola sungai CikapundungDimana, cara yang digunakan adalah dengan bermain sambil bergotong royong memunguti sampah yang berserakan di sungai.


Hal tersebut selaras dengan yang diungkap oleh Rogers dan Shoemaker (dalam Hanafi, 2009) yang menjelaskan bahwa :

Dalam difusi inovasi terdapat tahap yang dimana seseorang mulai menilai terhadap ide baru itu dihubungkan dengan situasi kehidupan masyarakat saat ini dan masa depan mendatang dan juga masyarakat akan menentukan untuk mencoba atau tidak, lalu dimana seseorang menerapkan ide tersebut dalam skala kecil untuk menentukan kegunaannya apakah sesuai dengan situasi dirinya, lalu yang terakhir adalah tahap penerimaan atau mengadopsi sebuah ide-ide baru dimana seseorang sudah menggunakan ide tersebut dalam skala yang luas.


Sebagaimana pendapat dari Gibson (dalam Nasution, 2009) yang mengungkapkan faktor-faktor yang berhubungan dengan partisipasi masyarakat adalah sebagai berikut:

1)Faktor kependudukan, antara lain usia, jumlah keluarga, daerah asal atau tempat kelahiran;

2) Faktor sosial ekonomi, antara lain: tingkat pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan;

3) Faktor budaya merupakan keterkaitan terhadap norma budaya yang berlakudi masyarakat, juga penyebabSecaraideal, penciptaan lingkungan itu juga mengharuskan kelompok sosial mendapatkan kesempatan mengembangkan cara hidup dan alam sekitarnya menurut pilihan mereka masing-masing.


Faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat ikut berpartisipasi bersama komunitas dalam memelihara kelestarian lingkungan.

Beragam faktor yang menyebabkan seseorang menerima keputusan untuk mengadopsi atau menolak gagasan gerakan Cikapundung bersih. Hal ini tidak terlepas dari cara komunitas menghadirkan gagasan, melaksanakan kegiatan, hingga menyebarkan gagasan tersebut kepada masyarakat. Lalu, jika merujuk pendapat dari Ansorudi (2007) faktor penyebab masyarakat berkenan menerima gagasan dan berpartisipasi yaitu keuntungan yang didapat oleh warga dari gagasan gerakan Cikapundung bersih baik secara materil dan non materil, kompleksitas inovasi gagasan gerakan Cikapundung bersih pun tidak terlalu sulit untuk dipahami oleh warga, lalu kompabilitas dari gagasan gerakan Cikapundung tidak bertentangan dengan nilai-nilai sosial yang ada di lingkungan RW 13, dari segi trialibilitas dan obserbvabilitas gagasan gerakan Cikapundung dapat dicoba dan dilihat hasilnya oleh berbagai kalangan. Tidak hanya itu, komunitas juga yang mampu memainkan perannya sebagai inovator dan agen pembaharu dalam mengembangkan program gerakan Cikapundung bersih, lalumenyebarluaskanmasyarakat RW 13. Kedekatan dengan para pemuda dan kerjasama dengan instansi-instansi yang terkait, juga menjadi kunci keberhasilan komunitas dalam mempengaruhi keputusan para tokoh masyarakat untuk ikut bergabung bersama komunitas. Adapun, warga yang menolak hadirnya inovasi setelah mencoba kegiatan yang dilakukan tidak terlepas dari kontroversi yang nanti akan dibahas dalam kendala yang di alami oleh komunitas dalam menyebarkan idenya. Selanjutnya dalam pemetaan tipologi adopter peneliti membagi menjadi lima bagian di mana komunitas sebagai inovator, pemuda RT 01, 02, dan 05 sebagai pengguna awal, para orang tua di RT 01, 02, dan 05 sebagai mayoritas awal,warga RT 06 sebagai mayoritas akhir, dan yang terakhir warga RT 03, RT 04, dan RT 07 sebagai laggard. Kendala yang dialami oleh komunitas peduli lingkungan dalam menjalakan program dan menyebarkan inovasi. Berdasarkan hasil temuan yang ditemukan peneliti selama proses penelitian, terdapat beberapa kendala yang ditemui oleh komunitas dalam menjalankan dan menyebar gagasan gerakan Cikapundung bersih, baik yang sudah diselesaikan oleh komunitas ataupun sedang dalam proses penyelesaian. Munculnya kendala sebetulnya sangat menghambat proses penyebaran gagasan dan kegiatan dari komunitas. Hanya saja, menurut Hanafi (2009) kejadian yang seperti ini merupakan hal wajar, karena: Menyebarkan sebuah inovasi ke masyarakat itu merupakan hal yang penting dan nyatanya semua itu tidak mudah dan selancar penciptaan gagasan atau ide yang akan dinovasikan. Terkadang sebuah inovasi ada yang tak sempat dikeluarkan oleh pabrik atau pun saku penemunya atau juga ketika sebuah inovasi dikeluarkan ternyata sebuah inovasi tidak dapat bertahan dengan lama.Ini menunjukkan untuk bisa mengomunikasikan sebuah inovasi bukan sebuah halmudahdan sederhanamelainkan serba rumit.

Berdasarkan temuan dan hasil analisis terlihat bahwa usaha yang dilakukan oleh komunitas Kuya Tilubelas melalui ide gerakan Cikapundung bersih cukup efektif menyadarkan wagauntuk ikut serta dalam inovasi, upaya modal harus manusiabahwa keputusan untuk menghentikan inovasi setelah mengadopsi. Menyatakan seseorang penggunaan sebelumnyaPenyebabnya, tidak lain seperti yang sudah peneliti ungkap sebelumnya yaitu perbedaan cara pandang dalam memaknai gagasan dan dampaknya masyarakat menjadi kurang puas dengan inovasi yang di kampanyekan oleh komunitas.menjaga kelestarian bantaran sungai maupun sungai Cikapundung itu sendiri. Hal ini terlihat dari delapan kegiatan yang dilakukan, hampir semua kegiatan warga turut serta melaksanakan semua rangkaiannya. Kemudian Hadir kegiatan seperti Kukuyaan dan OPSIH Kuya Tilubelas telah membuka pandangan instansi pemerintahan ataupun swasta untuk membuka jalinan kemitraan membangun sungai Cikapundung yang lebih baik. Sehingga dampak yang dirasakan selama enam tahun perjalanan komunitas membangun kesadaran dan kelestarian cukup signifikan, terlihat hampir lima RT dari tujuh RT selalu aktif dalam kegiatan yang di selenggarakan. Hanya saja masih ada kendala yang harus ditemui oleh komunitas dalam setiap melaksanakan program dan penyebaran gagasan, seperti halnya permasalahan dana dan juga permasalahan perbedaan cara pandang dalam memaknai gagasan yang berujung pada diskontinuansi inovasi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penerapan Teori Taksonomi Bloom Terhadap Perilaku Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan yang Sehat

APLIKASI TEORI HBM (HEALTH BELIEF MODEL) DALAM KASUS PENYADARAN AKAN PENTINGNYA MENJAGA KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA

DIFUSI INOVASI KESEHATAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM JAMBAN ARUM (ANTAR KE RUMAH)