DIFUSI INOVASI KESEHATAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM JAMBAN ARUM (ANTAR KE RUMAH) DI KECAMATAN SIMPANGKATIS KABUPATEN BANGKA TENGAH

 



                                         Nama        : Sabanita Tiara Ahmad

                                     NIM           : 811421209

                                     Kelas         : C (S1 Kesehatan Masyarakat) Semester 2

                                     Kelompok   : 4


"DIFUSI INOVASI KESEHATAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM JAMBAN ARUM (ANTAR KE RUMAH) DI KECAMATAN SIMPANGKATIS KABUPATEN BANGKA TENGAH"

Teori difusi inovasi merupakan teori yang membahas tentang bagaimana ide atau gagasan baru dan teknologi tersebar dalam suatu kebudayaan. Teori difusi inovasi merupakan perpaduan dari kata difusi dan inovasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata difusi memiliki arti berupa penyebaran atau perembesan sesuatu berupa kebudayaan, teknologi, atau ide dari suatu pihak ke pihak lain, sedangkan inovasi memiliki arti sebagai pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru, yakni sebuah pembaruan. Teori difusi inovasi dipopulerkan pada tahun 1964 oleh Everett Rogers. Dalam buku ciptaannya yang berjudul “Difussion of Innovations” ia menjelaskan bahwa difusi merupakan proses ketika sebuah inovasi dikomunikasikan melalui beberapa saluran dengan jangka waktu tertentu dalam sebuah sistem sosial.

Sesuai dengan pemikiran Rogers, dalam proses difusi inovasi terdapat 4 (empat) elemen pokok, yaitu:

1.   Inovasi

Inovasi adalah gagasan, tindakan, atau barang yang dianggap baru oleh seseorang. Dalam hal ini, kebaruan inovasi diukur secara subjektif menurut pandangan individu yang menerimanya. Jika suatu ide dianggap baru oleh seseorang maka ia adalah inovasi untuk orang itu. Konsep ”baru” dalam ide yang inovatif tidak harus baru sama sekali.

2.    Saluran komunikasi

Saluran komunikasi adalah alat untuk menyampaikan pesan-pesan inovasi dari sumber kepada penerima.

3.    Jangka waktu

Jangka waktu adalah proses keputusan inovasi, dari mulai seseorang mengetahui sampai memutuskan untuk menerima atau menolaknya, dan pengukuhan terhadap keputusan itu sangat berkaitan dengan dimensi waktu.

4.    Sistem sosial

Sistem sosial adalah kumpulan unit yang berbeda secara fungsional dan terikat dalam kerjasama untuk memecahkan masalah dalam rangka mencapai tujuan bersama.

PENERAPAN TEORI DIFUSI INOVASI

Eliana dan Sri Sumiati (2016:3) mengatakan bahwa Kesehatan Masyarakat adalah ilmu dan seni memelihara, melindungi dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat (Ikatan Dokter Amerika, AMA, 1948). Kesehatan masyarakat diartikan sebagai aplikasi dan kegiatan terpadu antara sanitasi dan pengobatan dalam mencegah penyakit yang melanda penduduk atau masyarakat. Kesehatan masyarakat adalah kombinasi antara teori (ilmu) dan Praktek (seni) yang bertujuan untuk mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan penduduk (masyarakat). Kesehatan masyarakat adalah sebagai aplikasi keterpaduan antara ilmu kedokteran, sanitasi, dan ilmu dalam mencegah penyakit yang terjadi di masyarakat. Tujuan Kesehatan masyarakat baik dalam bidang promotif, preventif, kuratif dan adalah tiap warga masyarakat dapat mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya baik fisik, mental, serta diharapkan berumur panjang.

  •    Jamban Arum (Antar ke Rumah)

Jamban Arum (Antar ke Rumah) merupakan salah satu inovasi kebijakan dari Pemerintah Kecamatan Simpangkatis Kabupaten Bangka Tengah untuk mewujudkan masyarakatnya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat. Kebijakan ini merupakan pembuatan satu jamban satu rumah dengan menggunakan anggaran sukarela dari seluruh aparatur yang ada diwilayah Kecamatan Simpangkatis, antara lain pegawai kecamatan, pegawai Puskesmas, pegawai KUA, Polsek, perangkat desa dan lain-lain. Pembuatan jamban ini dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat setempat dan secara keseluruhan dilakukan secara terpadu antara partisipasi masyarakat dan aparatur yang ada diwilayah Kecamatan Simpangkatis.

HASIL DIFUSI INOVASI JAMBAN ARUM

Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, Udin Syaefudin Sa’ud (20014:29) mengungkapkan bahwa Rogers menyatakan “Dalam proses difusi inovasi terdapat 4 (empat) elemen pokok, yaitu: suatu inovasi, dikomunikasikan melalui saluran komunikasi tertentu, dalam jangka waktu dan terjadi diantara anggota-anggota suatu sistem sosial.

  1. Inovasi

 Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Camat dan Kasi Pembangunan Kecamatan Simpangkatis serta para penerima Jamban Arum, Program Jamban Arum di Kecamatan Simpangkatis Kabupaten Bangka Tengah adalah yang pertama kali dilakukan dan sangat memberi manfaat bagi masyarakat. Selain itu juga, dalam mendapatkannya tidak sulit dan sudah dapat dilihat serta dicoba. Dengan demikian, dapat dianalisa bahwa indikator inovasi yang ditinjau dari lima atribut yang menandai suatu gagasan atau cara baru, dapat diketahui bahwa elemen inovasi berupa tingkat penerimaan masyarakat terhadap kebaruan inovasi dari difusi inovasi kesehatan masyarakat melalui Program Jamban Arum (Antar ke Rumah) di Kecamatan Simpangkatis.

Kabupaten Bangka Tengah dapat dikatakan sudah baik. Ini ditunjukkan dengan bermanfaatnya Program Jamban Arum yang dilakukan, sudah dilakukan sesuai dengan kondisi masyarakat yang ada, program dilakukan dengan mudah, serta program jamban arum ini sudah dilaksanakan dan digunakan. Jadi inovasi Program Jamban Arum tersebut dapat dikatakan sebagai inovasi baru dan sudah diterima dengan baik.

  1. Saluran Komunikasi

 Selain inovasi, persyaratan kedua bagi keberhasilan difusi inovasi menurut Everett M. Rogers (1964) adalah faktor saluran komunikasi. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, dapat diketahui bahwa saluran komunikasi yang digunakan oleh pihak Kecamatan Simpangkatis dalam difusi inovasi kesehatan masyarakat melalui Program Jamban Arum (Antar ke Rumah) di Kecamatan Simpangkatis Kabupaten Bangka Tengah sudah efektif melalui komunikasi media massa berupa sosialisasi dan komunikasi interpersonal berupa koordinasi langsung baik dengan pihak terkait maupun kepada penerima jamban.


  1. Jangka Waktu

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan camat, kepala seksi dan staf seksi pembangunan Kecamatan Simpangkatis, staf Desa Celuak dan Desa Beruas serta penerima jamban, dapat disimpulkan bahwa jangka waktu yang dibutuhkan dalam difusi inovasi kesehatan masyarakat melalui program jamban arum (antar ke rumah) di Kecamatan Simpangkatis Kabupaten Bangka Tengah dapat dikatakan sangat lama.


  1. Sistem Sosial

Melihat hasil dari wawancara yang dilakukan, jadi dapat disimpulkan bahwa difusi inovasi kesehatan masyarakat melalui Program Jamban Arum (Antar ke Rumah) di Kecamatan Simpangkatis Kabupaten Bangka Tengah terjadi didalam sistem sosial yang ada dimasyarakat.

Setelah melihat hasil dari pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa difusi inovasi kesehatan masyarakat melalui Program Jamban Arum (Antar ke Rumah) di Kecamatan Simpangkatis Kabupaten Bangka Tengah belum berjalan dengan baik. Hal ini dikarenakan program Jamban Arum hanya dikomunikasikan dan diterima saja didalam masyarakat tetapi tidak terjadinya proses adopsi dari program tersebut. Hal ini ditunjukkan dari keempat faktor yang dicetuskan oleh Rogers (1964) bahwasanya difusi inovasi terdiri dari empat elemen yakni inovasi, saluran komunikasi, jangka waktu dan sistem sosial. Untuk difusi inovasi kesehatan masyarakat melalui Program Jamban Arum (Antar ke Rumah) di Kecamatan Simpangkatis Kabupaten Bangka Tengah itu sendiri, dapat diketahui bahwa inovasi yang dicetuskan merupakan inovasi baru yang tersebar melalui saluran komunikasi yang efektif yakni menggunakan saluran komunikasi media dan komunikasi interpersonal, serta terjadi didalam sistem sosial yang berlaku di Kecamatan Simpangkatis. Namun dari segi jangka waktunya berjalan sangat lama hal ini dibuktikan dengan belum adanya pengadopsian terhadap program Jamban Arum hingga saat ini. Selain itu, dengan menganalisa hasil dari pembahasan yang dilakukan, dapat disimpulkan juga bahwa aspek yang paling kuat dalam difusi inovasi Jamban Arum adalah sistem sosial. Karena melalui sistem sosial ini difusi inovasi Jamban Arum terjadi dengan sangat cepat.

Dengan belum berjalan baiknya difusi inovasi Program Jamban Arum dikarenakan belum adanya pengadopsian sehingga jangka waktu difusinya berjalan sangat lama, oleh karena itu tentunya dapat dipastikan bahwa perlunya sebuah sikap dari seorang pelaksana dalam penerapan/ pengadopsian dari Program Jamban Arum tersebut. Sikap pelaksana (disposisi) dalam hal ini berperan dalam menentukan/pun mengambil kebijakan untuk mengadopsi Program Jamban Arum. Edwards III (dalam Syafri dan Setyoko, 2008:48) menjelaskan bahwa Kecenderungan-kecenderungan merupakan praduga-praduga dari para pelaksana terhadap suatu kebijakan. Jika para pelaksana bersikap baik karena menerima suatu kebijakan, kemungkinan besar mereka akan melaksanakan kebijakan tersebut secara bersungguh-sungguh seperti yang diharapkan pembuat kebijaksanaan. Sebaliknya jika perspektif dan tingkah laku para pelaksana berbeda dengan para pembuat kebijakan, maka proses implementasi kebijakan akan mengalami kesulitan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penerapan Teori Taksonomi Bloom Terhadap Perilaku Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan yang Sehat

APLIKASI TEORI HBM (HEALTH BELIEF MODEL) DALAM KASUS PENYADARAN AKAN PENTINGNYA MENJAGA KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA

DIFUSI INOVASI KESEHATAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM JAMBAN ARUM (ANTAR KE RUMAH)