Difusi Inovasi Program Keluarga Berencana “Dua Anak Lebih Baik” dalam Mengendalikan Pertumbuhan Penduduk Desa Lompio Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala


 


Nama : Fitha Fardila Suwarno

Nim : 811421067

Kelas : C

Kelompok : 4

S1 Kesehatan Masyarakat



" Difusi Inovasi Program Keluarga Berencana ( Dua Anak Lebih Baik ) dalam Mengendalikan Pertumbuhan Penduduk Desa Lompio Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala "


    Pertumbuhan penduduk saat ini semakin meningkat sehingga berdampak pada kehidupan masyarakat yang tidak sejahtera, oleh karena itu pemerintah memberikan informasi berupa himbauan seperti, Slogan “Dua Anak Lebih Baik” yang menganjurkan masyarakat agar dalam satu keluarga cukup terdiri dari sepasang suami istri dan dua orang anak saja. Hal ini dilakukan agar kesejateraan sosial masyarakat dapat terjamin. Tanpa adanya Program Keluarga Berencana “Dua Anak Lebih Baik” yang mengatur pengendalian jumlah penduduk dan pertumbuhan penduduk dapat dipastikan bahwa pembangunan bidang lainnya menjadi kurang. 

      Program Keluarga Berencana merupakan salah satu bentuk pembangunan yang telah di￾canangkan pemerintah untuk mensejahterakan hidup masyarakat. Peningkatan kesejahteraan keluarga dapat diraih melalui Program Keluarga Berencana “Dua Anak Lebih Baik”. Ketika menerapkan program ini, secara tidak langsung berarti ikut berpatisipasi dalam meningkatkan kesejahteraan sistem soisal. Gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran. Itu bermakna bahwa perencanaan jumlah keluarga dengan pembatasan yang bisa dilakukan dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi atau penanggulangan kelahiran seperti kondom, spiral, IUD, dan sebagainya. Keluarga Berencana sendiri memiliki tujuan umum yaitu meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak dalam rangka mewujudkan NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera) yang menjadi dasar terwujudnya masyarakat yang sejatera dengan mengendalikan kelahiran sekaligus menjamin terkendalinya pertambahan penduduk. 

       Petugas lapangan di setiap daerah berada dibawah naungan UPT KB dan PP yang bertanggung jawab terhadap kegiatan penyuluhan Program Keluarga Berencana “Dua Anak Lebih Baik” di wilayah desa Lompio sendiri dikelola oleh UPT KB dan PP Kecamatan Sirenja. Berdasarkan letak dan kondisi wilahnya, Desa Lompio salah satu desa di Kecamatan Sirenja yang merupakan salah satu daerah yang pertumbuhan penduduknya paling tinggi diantara desa-desa lain. Program KB yang dicanangkan oleh pemerintah berguna untuk mencengah timbulnya masalah sosial akibat tingginya pertumbuhan penduduk Di Desa Lompio. Penyuluhan tentang Program Keluarga Berencana “Dua Anak Lebih Baik” secara rutin dilaksanakan di desa tersebut. Setiap bulannya petugas dari UPT KB dan PP melakukan kegiatan penyuluhan mengenai Program Keluarga Berencana “Dua Anak Lebih Baik”. Akan tetapi, pertumbuhan penduduk Desa Lompio dalam setiap tahunnya mengalami peningkatan dari 1.019 jiwa-1.036 jiwa, bahkan setelah dilakukannya penyuluhan Program Keluarga Berencana “Dua Anak Lebih Baik”.

     Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas maka dapat dirumuskan permasalahan yaitu, Bagaimana Difusi Inovasi Program Keluarga Berencana “Dua Anak Lebih Baik” yang dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (UPT KB dan PP) dalam mengendalikan pertumbuhan penduduk di Desa Lompio Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala dan Faktor-faktor apa saja yang menghambat penyebaran informasi tentang Program Keluarga Berencana “Dua Anak Lebih Baik”

Teori Difusi Inovasi

Difusi Inovasi terdiri dari dua padanan kata yaitu difusi dan inovasi. Rogers (1983) mendefinisikan difusi sebagai proses dimana suatu inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu dalam jangka waktu tertentu di antara para anggota suatu sistem sosial (the process by which an innovation is communicated through certain channels overtime among the members of a social system).Menurut Rogers (1983) dalam proses difusi inovasi terdapat 4 (empat) elemen pokok, yaitu: suatu inovasi, dikomunikasikan melalui saluran komunikasi tertentu, dalam jangka waktu dan terjadi diantara anggota-anggota suatu sistem sosial.

Inovasi 

Inovasi (gagasan, tindakan atau barang) yang dianggap baru oleh seseorang. Dalam hal ini, kebaruan inovasi diukur secara subjektif menurut pandangan individu yang menerimanya. Dalam bukunya Rogers menyatakan bahwa setiap inovasi memiliki karakteristik-karakteristik tersendiri yang bisa dinilai oleh individu. Penilaian setiap individu tidaklah sama. Tergantung pada masing-masing individu. Karakteristik inovasi adalah sifat dari difusi inovasi, dimana karakteristik inovasi merupakan salah satu yang menentukan kecepatan suatu proses inovasi. Rogers (1983) mengemukakan ada 5 karakteristik inovasi, yaitu : relative advantage (keuntungan relatif), compatibility atau kompatibilitas (keserasian), complexity atau kompleksitas (kerumitan), triability atau triabilitas (dapat diuji coba) dan observability (dapat diobservasi). Berikut ini adalah karakteristik-karakteristik inovasi menurut Rogers (1983:15-16):Relative Advantage Relative Advantage (keuntungan relatif) adalah tingkat kelebihan suatu inovasi, apakah lebih baik dari inovasi yang ada sebelumnya atau dari hal-hal yang biasa dilakukan. Biasanya diukur dari segi ekonomi, prestasi sosial, kenyamanan dan kepuasan. Semakin besar keuntungan relatif yang dirasakan oleh adopter, maka semakin cepat inovasi tersebut diadopsi. 

Compatibility

Compatibility kompatibilitas (keserasian) adalah tingkat keserasian dari suatu inovasi, apakah dianggap konsisten atau sesuai dengan nilai-nilai, pengalaman dan kebutuhan yang ada. Jika inovasi berlawanan atau tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang dianut oleh adopter maka inovasi baru tersebut tidak dapat diadopsi dengan mudah oleh adopter. 

Faktor-Faktor Penghambat Difusi dan Adopsi Inovasi

Proses komunikasi berlangsung dalam konteks situasional. Ini berarti bahwa komunikator harus memperhatikan situasi ketika komunikasi dilangsung, sebab situasi amat berpengaruh terhadap kelancaran komunikasi, terutama situasi yang berhubungan dengan faktor-faktor So￾sio-antro-psikologis (Onong Uchjana Efendi, 1986:14).

Hambatan sosio-antro-psikologis

Proses komunikasi berlangsung dalam konteks situasiona l (situational context). Ini berarti bahwa komunikator harus memperhatikan situasi ketika komunikasi dilangsungkan, sebab situasi amat berpengaruh terhadap kelanacaran komunikasi, terutama situasi yang berhubungan dengan 

faktor-faktor sosiologis-antropologis-psikologis. 

menurut Onong Uchjna Effendy dalam bukunya yang berjudul dinamika komunikasi (2004 : 11) faktor-faktor penghambat komunikasi terdiri dari :Hambatan sosiologisMasyarakat terdiri dari berbagai golongan dan lapisan yang menimbulkan perbedaan dalam status sosial, agama, ideologi, tingkat pendidikan dan sebagianya yang semuanya dapat menjadi hambatan bagi kelancaran komunikasi.

Hambatan antropologis

Komunikasi akam berjalan lancar jika suatu pesan disampaikan komunikator diterima oleh komunikan secara tuntas, yaitu diterima dalampengertian received atau secara inderawi, dan dalam pengertian accepted atau secara rohani. 

Hambatan psikologis

Faktor psikologis seringkali menjadi hambatan dalam komunikasi. Hal ini umumnya disebabkan si komunikator sebelum melancarkan komunikasinya tidak mengkaji diri komunikan. 

KELUARGA BERENCANA (KB)

Keluarga Berencana merupakan suatu program pemerintah yang dirancang untuk menyeimbangkan antara kebutuhan dan jumlah penduduk. Program keluarga berencana oleh pemerintah adalah agar keluarga sebagai unit terkecil kehidupan bangsa diharapkan menerima Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) yang berorientasi pada pertumbuhan yang seimbang. Gerakan Keluarga Berencana Nasional Indonesia telah berumus sangat lama yaitu pada tahun 70-an dan masyarakat dunia menganggap berhasil menurunkan angka kelahiran yang bermakna. (http://doktersehat.com)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penerapan Teori Taksonomi Bloom Terhadap Perilaku Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan yang Sehat

APLIKASI TEORI HBM (HEALTH BELIEF MODEL) DALAM KASUS PENYADARAN AKAN PENTINGNYA MENJAGA KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA

DIFUSI INOVASI KESEHATAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM JAMBAN ARUM (ANTAR KE RUMAH)