Ditinjau dari Perspektif Health Belief Model Theory: COVID-19 dan Perubahan Perilaku Menuju Adaptasi Kebiasaan Baru

 





Nama: Muhammad Rizki Asigari
NIM: 811421017
Kelas/Semester: C, Semester 2
Kelompok: 2 (Health Belive Model)
S1 KESEHATAN MASYARAKAT

Ditinjau dari Perspektif Health Belief Model Theory:COVID-19 dan Perubahan Perilaku Menuju Adaptasi Kebiasaan Baru


Wabah COVID-19 pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada bulan Desember 2019 dan ditetapkan sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO) pada 11 Maret 2020. Virus SARS-CoV-2 diduga menyebar di antara orang-orang terutama melalui percikan pernapasan (droplet) yang dihasilkan selama batuk. Percikan ini juga dapat dihasilkan dari bersin dan pernapasan normal. Selain itu, virus dapat menyebar akibat menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi dan kemudian menyentuh wajah seseorang. Penyakit COVID-19 paling menular saat orang yang menderitanya memiliki gejala, meskipun penyebaran mungkin saja terjadi sebelum gejala muncul. Periode waktu antara paparan virus dan munculnya gejala biasanya sekitar lima hari, tetapi dapat berkisar dari dua hingga empat belas hari. Gejala umum diantaranya demam, batuk, dan sesak napas. Komplikasi dapat berupa pneumonia dan penyakit pernapasan akut berat. Tidak ada vaksin atau pengobatan antivirus khusus untuk penyakit ini. Pengobatan primer yang diberikan berupa terapi simptomatik dan suportif. Berdasarkan data WHO tanggal 26 Juli 2020, tercatat 15.785.641 kasus terkonfirmasi tersebar dari 216 Negara. Dari angka tersebut, terdapat 640.016 kasus kematian (https://covid19.go.id). 

Pemerintah Indonesia melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 mencatat penambahan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 pertanggal 27 Juli 2020 totalnya menjadi 100.303 terkonfirmasi, pasien sembuh menjadi 58.173, kasus meninggal menjadi 4.838. Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, menjelaskan angka ini tidak tersebar merata di seluruh Indonesia, melainkan ada beberapa wilayah yang memiliki kasus penambahan dengan jumlah tinggi, namun ada beberapa yang tidak sama sekali melaporkan adanya penambahan kasus positif. Lima provinsi dengan penyebaran terbesar adalah Jawa Timur, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah dan Jawa Barat (https://covid19.go.id).

Health belief model adalah suatu model yang digunakan untuk menggambarkan kepercayaan individu terhadap perilaku hidup sehat, sehingga individu akan melakukan perilaku sehat, perilaku sehat tersebut dapat berupa perilaku pencegahan maupun penggunaan fasilitas kesehatan. Konsep utama dari health belief model adalah perilaku sehat ditentukan oleh kepercaaan individu atau presepsi tentang penyakit dan sarana yang tersedia untuk menghindari terjadinya suatu penyakit. 

Jadi konsep penerapan HBM COVID-19 dan Perubahan Perilaku Menuju Adaptasi Kebiasaan Baru:

PERCEIVED SUSCEPTIBILITY

Persepsi kerentanan mengacu pada penilaian subyektif resiko pada masalah kesehatan. HBM memprediksi bahwa individu yang merasa rentan terhadap masalah kesehatan tertentu akan menunjukkan perilaku yang dapat mengurangi resiko terkena masalah kesehatan. Individu dengan kerentanan rendah dapat menyangkal bahwa mereka beresiko tertular penyakit tertentu. Orang lain mungkin mengakui kemungkinan bahwa dirinya dapat terkena penyakit, tetapi mempercayai bahwa hal itu tidak mungkin. Orang-orang yang percaya bahwa dirinya beresiko rendah terserang penyakit lebih mungkin terlibat dalam perilaku yang tidak sehat, atau beresiko. Individu yang merasakan risiko tinggi secara pribadi dipengaruhi oleh masalah kesehatan cenderung menunjukkan perilaku untuk mengurangi resiko sakit. Keparahan dan kerentanan yang dirasakan terhadap kondisi kesehatan tertentu bergantung pada pengetahuan tentang kondisi tersebut. Dengan kata lain, individu percaya bahwa penyakit muncul karena suatu perilaku tertentu. HBM memprediksikan bahwa ancaman yang dipersepsikan lebih tinggi mengarah pada kemungkinan keterlibatan yang lebih tinggi dalam perilaku yang meningkatkan kesehatan (Rosenstock, 1974). 

PERCEIVED SEVERITY

Mengacu pada penilaian subyektif dari keparahan masalah kesehatan dan konsekuensinya. HBM mengusulkan bahwa individu yang menganggap masalah kesehatan tertentu sebagai masalah serius lebih mungkin cenderung mencegah masalah kesehatan terjadi (atau mengurangi keparahannya). Keseriusan yang dirasakan mencakup keyakinan tentang penyakit itu sendiri (apakah itu mengancam jiwa atau dapat menyebabkan kecacatan atau rasa sakit) serta dampak yang lebih luas dari penyakit pada fungsi kerja dan peran sosial. Dengan kata lain, individu percaya bahwa ada bahaya dari suatu penyakit tertentu. Misalnya, seseorang mungkin menganggap bahwa influenza tidak serius secara medis, tetapi jika individu merasakan bahwa akan ada konsekuensi keuangan yang serius sebagai akibat absen dari pekerjaan selama beberapa hari, maka individu mungkin menganggap influenza sebagai kondisi serius (Janz & Becker, 1984).

PERCEIVED BENEFIT

Perilaku yang berhubungan dengan kesehatan juga dipengaruhi oleh manfaat yang dirasakan dari sebuah tindakan. Manfaat yang dirasakan merujuk pada penilaian seseorang tentang nilai atau kemanjuran terlibat dalam perilaku yang mempromosikan kesehatan untuk mengurangi resiko penyakit. Jika seseorang percaya bahwa tindakan tertentu akan mengurangi kerentanan terhadap masalah kesehatan atau mengurangi keseriusannya, maka individu kemungkinan akan terlibat dalam perilaku itu terlepas dari fakta obyektif mengenai efektivitas tindakan tersebut. Dengan kata lain, individu percaya terhadap manfaat dari metode yang disarankan untuk mengurangi resiko suatu penyakit. Misalnya, orang yang percaya bahwa memakai tabir surya mencegah kanker kulit lebih mungkin untuk memakai tabir surya daripada orang yang percaya bahwa memakai tabir surya tidak akan mencegah terjadinya kanker kulit (Glanz, Barbara & Viswanath, 2008). 

PERCEIVED BARRIER

Hambatan yang dipersepsikan merujuk pada penilaian individu terhadap hambatan dari perubahan perilaku. Jika seseorang menganggap kondisi kesehatan sebagai ancaman dan percaya bahwa tindakan tertentu secara efektif akan mengurangi ancaman, hambatan dapat mencegah keterlibatan dalam perilaku kesehatan. Dengan kata lain, manfaat yang dirasakan harus melebihi hambatan yang dirasakan agar perubahan perilaku dapat terjadi. Hambatan yang dirasakan untuk mengambil tindakan termasuk ketidaknyamanan yang dirasakan, biaya, bahaya (yang muncul akibat dari adanya prosedur medis) dan ketidaknyamanan (seperti rasa sakit, gangguan emosi) yang terlibat dalam terlibat dalam perilaku tersebut (Rosenstock, 1974). Dalam sebuah penelitian tentang skrining kanker payudara dan serviks di antara wanita Hispanik, hambatan yang dirasakan, seperti rasa takut akan kanker, rasa malu, pandangan fatalistik kanker dan bahasa, terbukti menghambat skrining (Austin, 2002). 

SELF-EFFICACY

Self-efficacy ditambahkan ke empat komponen HBM (yaitu, kerentanan yang dirasakan, keparahan, manfaat, dan hambatan) pada tahun 1988 (Rosenstock, Strecher & Becker, 1988). Self-efficacy mengacu pada persepsi seseorang tentang kompetensinya untuk berhasil melakukan suatu perilaku (Glanz, Barbara & Viswanath, 2008). Self-efficacy ditambahkan ke HBM dalam upaya untuk lebih menjelaskan perbedaan individu dalam perilaku kesehatan (Rosenstock, Strecher & Becker, 1988). Model ini awalnya dikembangkan untuk menjelaskan keterlibatan dalam perilaku terkait kesehatan satu kali seperti skrining untuk kanker atau menerima imunisasi. Akhirnya, HBM diterapkan pada perubahan perilaku jangka panjang yang lebih substansial seperti modifikasi diet, olahraga, dan merokok. Pengembang model mengakui bahwa kepercayaan diri pada kemampuan seseorang untuk mempengaruhi perubahan dalam hasil (yaitu, self-efficacy) adalah komponen kunci dari perubahan perilaku kesehatan (Glanz, Barbara & Viswanath, 2008). Schmiege et al (2007) menemukan bahwa ketika berhadapan dengan konsumsi kalsium dan latihan menahan beban, self-efficacy adalah prediktor yang lebih kuat daripada keyakinan tentang hasil kesehatan negatif di masa depan. Dengan kata lain, individu percaya pada diri sendiri bahwa dirinya mampu melaksanakan perilaku hidup sehat.

PERUBAHAN PERILAKU MENUJU ADAPTASI KEBIASAAN BARU

Perilaku seseorang dapat berubah-ubah sesuai dengan hal-hal yang memungkinkan perubahan itu terjadi yang dalam perkembangannya perilaku manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu dari faktor internal, yaitu: jenis ras atau keturunan, jenis kelamin, sifat fisik, kepribadian, bakat, dan intelegensi. Sedangkan dari faktor eksternal yaitu pendidikan, agama, kebudayaan, lingkungan dan sosial ekonomi. Perubahan perilaku merupakan suatu paradigma bahwa manusia akan berubah sesuai dengan apa yang dipelajari baik dari keluarga, teman, sahabat ataupun ataupun belajar dari diri sendiri, proses pembelajaran diri inilah yang nantinya akan membentuk seseorang, dan proses pembentukannya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan orang tersebut baik dalam kesehariannya ataupun dalam keadaan tertentu. Secara teori perubahan perilaku atau seseorang menerima atau mengadopsi perilaku baru dalam kehidupannya melalui tiga tahap yaitu: (1) pengetahuan, di mana individu cenderung akan mengadopsi perilaku apabila terlebih dahulu apabila mengetahui arti dan manfaatnya; (2) sikap, setelah seseorang diberi stimulus atau objek, proses selanjutnya akan ada penilaian atau sikap terhadap stimulus atau objek tersebut; (3) tindakan, setelah melewati dua tahapan sebelumnya, maka individu akan mempraktikkan atau melaksanakan apa yang diketahui dan disikapinya

Pemerintah melalui Presiden RI secara resmi menyatakan bahwa kehidupan masyarakat saat ini sudah pasti berubah untuk mengatasi resiko wabah ini. Itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai New Normal atau tatanan kehidupan baru. Pada masa pandemi masyarakat Indonesia diharuskan hidup dengan tatanan hidup baru, yang dapat ‘berdamai’ dengan COVID-19. Adapun yang dimaksud dengan New Normal adalah suatu tindakan atau perilaku yang dilakukan oleh masyarakat dan semua institusi yang ada di wilayah tersebut untuk melakukan pola harian, pola kerja, dan pola hidup baru yang berbeda dengan sebelumnya. Bila hal ini tidak dilakukan, akan terjadi resiko penularan. Tujuan dari New Normal adalah agar masyarakat tetap produktif dan aman dari COVID-19 di masa pandemi. Agar New Normal lebih mudah diinternalisasikan oleh masyarakat maka “New Normal” dinarasikan menjadi “Adaptasi Kebiasaan Baru”. Maksud dari Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) adalah agar semua individu bisa bekerja, belajar dan beraktivitas dengan produktif di era pandemi COVID-19. Kebiasaan baru untuk hidup lebih sehat harus terus menerus dilakukan masyarakat dan setiap individu, sehingga menjadi norma sosial dan norma individu baru dalam kehidupan sehari hari


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penerapan Teori Taksonomi Bloom Terhadap Perilaku Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan yang Sehat

APLIKASI TEORI HBM (HEALTH BELIEF MODEL) DALAM KASUS PENYADARAN AKAN PENTINGNYA MENJAGA KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA

DIFUSI INOVASI KESEHATAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM JAMBAN ARUM (ANTAR KE RUMAH)