EFEKTIVITAS EDUKASI BERBASIS TRANSTHEORETICAL MODEL (TTM) TERHADAP SELF CARE BEHAVIOR PASIEN HIPERTENSI
NAMA : SITI
RAHMASARI IBRAHIM
NIM : 811421124
KELAS : C (SEMESTER
2)
MATA KULIAH :
PROMOSI KESEHATAN
DOSEN PENGAMPUH :
RAMLY ABUDI, S.Psi, M.Kes
EFEKTIVITAS
EDUKASI BERBASIS TRANSTHEORETICAL MODEL (TTM) TERHADAP SELF CARE BEHAVIOR
PASIEN HIPERTENSI
The Transtheoretical
Model menurut Prochaska dan Diclement (1983) adalah suatu model yang integratif
tentang suatu perubahan perilaku. Model ini merupakan kunci pembangun dari
teori lain yang terintegrasi. Model ini menguraikan bagaimana orang-orang
memodifikasi perilaku masalah atau memperoleh suatu perilaku yang positif dari
perubahan perilaku tersebut. Model
ini adalah suatu perubahan yang disengaja untuk mengambil suatu keputusan dari
individu tersebut. Model ini juga melibatkan emosi, pengamatan dan perilaku,
serta melibatkan pula suatu kepercayaan diri.
Model Transtheoretical adalah model perubahan yang disengaja, yaitu model yang berfokus pada pengambilan keputusan individu. Pendekatan lain untuk promosi kesehatan telah berfokus terutama pada pengaruh sosial terhadap perilaku atau pengaruh biologis terhadap perilaku.
Menurut Transtheoretical Model yang diperkenalkan James Prochaska dan Carlo DiClemente pada akhir tahun 1970, ada sejumlah tahapan yang terjadi dalam perubahan perilaku. Mereka menyebut bahwa perubahan tidak terjadi dengan mudah, serta membutuhkan komitmen untuk dapat terwujud. Enam tahapan utama dalam perubahan perilaku adalah sebagai berikut:
1.
Pre-Contemplation
(Tahap Pra-Kontemplasi)
2.
Contemplation
(Tahap Kontemplasi)
3.
Preparation
(Tahap Persiapan)
4.
Action
(Tahap Aksi)
5.
Maintenance
(Tahap Pemeliharaan)
6.
Termination
(Tahap Terminasi)
Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang saat ini banyak terjadi di masyarakat. Prevalensi penderita hipertensi meningkat setiap tahunnya. Saat ini, penderita hipertensi di dunia mencapai 22% dari populasi yang ada dan diprediksi pada tahun 2025 mencapai 1,56 miliar penderita. Berdasarkan data Riskesdas Tahun 2018 terdapat 658.201 penderita hipertensi di Indonesia dengan rentang usia terbanyak 25-34 tahun (23,14%), 35-44 tahun sebanyak 21,96%, dan 45-54 tahun sebanyak 18,06%. Sedangkan di Sulawesi Selatan sendiri terdapat 21.142 jiwa (3,21%) penderita hipertensi (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2018). Terkait komplikasi yang ditimbulkan, penyakit hipertensi yang tidak terkontrol menyebabkan penyakit kardiovaskuler, stroke dan penyakit ginjal. Hipertensi menjadi penyebab separuh dari seluruh kematian karena stroke dan penyakit jantung. Guna mencegah terjadinya komplikasi tersebut diperlukan perubahan perilaku pasien hipertensi. Perilaku perawatan mandiri merupakan tindakan penting yang dilaksanakan seseorang guna peningkatan status kesehatan maupun pencegahan penyakit.
Ø
Self Care Behavior
Teori self care diperkenalkan oleh Orem pada tahun 1971. Dalam teori ini Orem mengemukakan bahwa self care bukanlah proses intuisi melainkan suatu perilaku yang dapat dipelajari dari proses beajar. Dalam hal ini, perawat dan pasien saling melengkapi.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Self care behavior dipengaruhi banyak faktor termasuk status sosial ekonomi, kepercayaan tentang obat-obatan, komorbiditas, ketersediaan obat-obatan, akses ke layanan kesehatan, tingkat melek kesehatan, jumlah obat, lamanya terapi, usia, jenis kelamin, budaya, status pendidikan, dan pengetahuan tentang penyakit dan pengobatan. Selain itu, Mulyati et al. (2013) mengemukakan bahwa terdapat berbagai faktor yang berpengaruh terhadap self-management behaviour (SMB) pasien hipertensi diantaranya keyakinan akan efektivitas terapi, self efikasi, dukungan social, dan komunikasi petugas kesehatan. Dari keempat faktor tersebut, komunikasi petugas merupakan faktor yang paling dominan dimana komunikasi petugas yang dimaksud adalah eduksi kesehatan. Olehnya itu, diperlukan pendidikan kesehatan yang optimal guna meningkatkan self care behavior pasien hipertensi.
Aspek Self Care Behavior Pasien Hipertensi
Berdasarkan
rekomendasi JNC 7 bahwa pasien hipertensi dianjurkan melakukan perilaku
perawatan mandiri guna mencegah terjadinya komplikasi. Adapun perilaku mandiri
tersebut diantaranya:
1) Kepatuhan
terhadap pengobatan
2) Penurunan
berat badan merupakan satu-satunya metode yang paling efektif, dengan cara
mengatur pola makan dan memperbanyak konsumsi buah dan sayur.
3) Diet
rendah garam (< 6 gram garam per hari) serta memperbanyak konsumsi kalium,
kalsium dan magnesium.
4) Olah
raga atau aktivitas fisik. Olah raga yang dilakukan secara teratur sebanyak 30
– 60 menit/ hari, minimal 3 hari/ minggu, mis. berjalan kaki, mengendarai
sepeda atau menaiki tangga dalam aktifitas rutin di tempat kerja.
5) Mengurangi
konsumsi alcohol. Konsumsi alcohol lebih dari 2 gelas per hari pada pria atau 1
gelas per hari pada wanita, dapat meningkatkan tekanan darah.
6) Berhenti merokok. Merokok merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, dan pasien sebaiknya dianjurkan untuk berhenti merokok.
Ø Pengaplikasian Transtheoritical Model (TTM)
Berikut ini cara
pengaplikasian efektivitas
edukasi berbasis Transtheoritical Model (TTM) terhadap self care behavior
pasien Hipertensi :
· Pre-Contemplation (Tahap Pra-Kontempentasi)
Pada tahap precontemplation, kepercayaan diri pasien kurang dan kemungkinan untuk tergoda meningkat, kontra untuk berubah lebih besar dibandingkan pro, dan intervensi proses berubah yang diperlukan adalah dramatic relief, consciousness raising dan help relationship.
· Contemplation (Tahap Kontemplentasi)
Pada
tahap contemplation, kepercayaan diri pasien lebih tinggi dibanding pasien yang
berada pada tahap preparation, kontra dan pro untuk berubah seimbang, dan
intervensi proses berubah yang dapat diberikan adalah self dan environment
reevolution.
· Preparation (Tahap Persiapan)
Pada
tahap preparation, pasien sedang meningkatkan kepercayaan
dirinya, kontra bisa lebih besar atau sama
dengan pro sehingga self dan social liberation merupakan intervensi proses
berubah yang tepat diberikan.
· Action (Tahap Aksi)
Pada
tahap action ini, kepercayaan diri pasien lebih tinggi dibandingkan kemungkinan
untuk tergoda, pro untuk berubah lebih besar dibanding kontra dan intervensi
proses berubah yang dapat diberikan seperti stimulus kontrol, counter condition
dan relationship.
· Maintenance (Tahap Pemeliharaan)
Pada
tahap maintenance, self efikasi pasien sangat tinggi. Hal demikianlah yang
menjadikan dasar penyuluh atau dalam hal ini perawat memberikan intervensi yang
tepat guna mampu meningkatkan perubahan perilaku positif.
· Termination (Tahap Terminasi)
Dan
pada tahap termination, perilaku pasien sudah menetap dan pasien sudah meniggalkan
kebiasaan buruknya.

Komentar
Posting Komentar