Health Belief Model pada Perilaku Merokok Menurut Tingkat Pendapatan

 



NAMA : LEDY RAHMAWATI HAMZAH

KELAS : C SEMESTER 2

NIM : 811421096

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT

 

Health Belief Model pada Perilaku Merokok Menurut Tingkat Pendapatan

Perilaku merokok adalah aktivitas berupa membakar tembakau lalu kemudian asap rokok tersebut dihirup atau dihisap menggunakan pipa atau rokok (Sari dkk., 2003). Menurut Armstrong (2000), tujuan merokok adalah untuk menghisap asap tembakau yang dibakar ke dalam tubuh dan kemudian menghembuskan kembali keluar asap tersebut (Widiansyah, 2014).

Indonesia merupakan negara posisi ketiga dengan jumlah perokok tertinggi di dunia setelah Cina dan India dengan jumlah persentase sebesar 35% dari total populasi penduduk atau setara dengan 75 juta jiwa (Khairatunnisa & Fachrizal, 2019). Bahkan Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2018), jumlah perokok di Indonesia tidak mengalami penurunan, bahkan cenderung jumlahnya meningkat setiap tahunnya. Jawa Timur merupakan salah satu provinsi di Pulau Jawa dengan prevalensi perokok yang cukup tinggi dengan angka prevalensi sebesar 27,78% pada tahun 2020.

Bagi para perokok, mereka menganggap bahwa merokok dapat memberikan rasa nikmat, membentuk mood menjadi positif, dan merupakan bentuk coping stress. Selain itu, merokok juga dapat membantu mengurangi ketegangan, membantu berkonsentrasi, dan suatu hal yang menyenangkan (Etika & Wijaya, 2015). Namun selain dampak positif yang dirasakan oleh para perokok, merokok juga memiliki banyak sekali dampak negatif bagi perokok itu sendiri maupun orang lain di sekitarnya.

Rokok merupakan salah satu penyebab masalah kesehatan atau bahkan kematian yang terjadi di dunia, bahkan kematian akan rokok diprediksikan menjadi 7 dari 10 orang pada tahun 2020 (Sirait dkk., 2002).

HBM merupakan sebuah model kepercayaan kesehatan individu dalam menentukan tindakan yang akan dilakukan dan dijelaskan sebagai konsep yang diformulasikan dengan tujuan untuk memahami mengapa individu melakukan atau tidak melakukan berbagai perilaku sehat (Janz & Becker, 1984).

Teori HBM menghasilkan empat dimensi utama yang terdiri dari perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, dan perceived barriers (Abraham & Sheeran, 2015) dan dua dimensi tambahan yaitu cues to action dan health motivation. Dimensi tersebut dijelaskan oleh Janz & Becker, (1984) dan Abraham & Sheeran (2015), yaitu;

1.      (perceived severity) merupakan dimensi yang memberikan gambaran mengenai perasaan individu tentang seberapa seriusnya suatu penyakit dan memberikan evaluasi mengenai pandangan individu terhadap dampak dari penyakit.

2.      (perceived susceptibility) merupakan dimensi yang memberikan gambaran mengenai perasaan individu tentang kerentanan dirinya untuk mengalami suatu kondisi tertentu dan kepercayaan individu mengenai suatu penyakit.

3.      (Perceived barriers) merupakan dimensi yang memberikan gambaran mengenai kepercayaan individu terhadap rasa ketidaknyamanan akan hambatan dari sebuah tindakan yang disarankan untuk diadopsi yang dimana adalah sebuah perilaku sehat.

4.      (Perceived benefits) merupakan dimensi yang memberikan gambaran mengenai kepercayaan individu terhadap keefektifan suatu tindakan yang disarankan untuk mengurangi risiko atau dampak dari suatu kondisi atau penyakit.

 

Dua dimensi yang merupakan representasi individu terhadap persepsi ancaman yakni perceived susceptibility dan perceived severity juga evaluasi perilaku yakni perceived benefits dan perceived barriers. Penelitian yang dilakukan oleh Mao, dkk., (2009) mengatakan bahwa jika individu memiliki skor yang rendah pada perceived benefits dari merokok dan perceived barriers jika tidak merokok, mereka akan cenderung untuk menjadi bukan perokok (Mao et al., 2009). Penelitian terkait Health Belief Model dengan perilaku merokok dilakukan oleh (Li & Kay, 2009) yang bertujuan untuk meninjau hubungan antara empat dimensi utama dalam Health Belief Model yaitu perceived severity dari gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh merokok, perceived susceptibility dari gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh merokok, perceived barriers jika tidak merokok, dan perceived benefits jika tidak merokok. Penelitian ini menghasilkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada dimensi perceived severity, tidak terdapat perbedaan pada dimensi perceived susceptibility, terdapat korelasi positif pada dimensi perceived barriers, dan berkorelasi negatif pada perceived benefits. Jika skor pada dimensi perceived barriers yang tinggi dan perceived benefits yang rendah, seseorang akan cenderung untuk menjadi perokok, dan sebaliknya.

Adanya data terkait perbedaan prevalensi dan penelitian-penelitian sebelumnya terkait pendapatan dan perilaku merokok yang menyatakan bahwa pendapatan berhubungan terbalik dengan perilaku merokok seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku merokok banyak dilakukan pada seseorang dengan tingkat pendapatan rendah dari pada seseorang dengan tingkat pendapatan tertinggi. Padahal pendapatan yang dimiliki oleh perokok tingkat pendapatan rendah dapat dialokasikan untuk kebutuhan pokok yang lebih utama dibandingkan dengan memenuhi kebutuhan merokok mereka, sedangkan pada perokok tingkat pendapatan sangat tinggi dapat dikatakan memiliki kemampuan yang lebih tinggi untuk memenuhi kebutuhan mereka termasuk kebutuhan merokok. Namun berdasarkan data-data yang telah dipaparkan sebelumnya, cukup banyak ditemukan bahwa prevalensi yang lebih tinggi terkait perilaku merokok terjadi pada perokok dari tingkat pendapatan rendah dibandingkan dengan perokok tingkat pendapatan tertinggi.

Berdasarkan pemaparan di atas, hipotesis yang telah disusun adalah sebagai berikut:

Hipotesis nol (Ho) pada penelitian ini adalah:

Ho1: Tidak terdapat pengaruh antara perceived severity, perceived susceptibility, perceived barriers dan perceived benefits terhadap perilaku merokok pada perokok dengan tingkat pendapatan rendah

Ho2: Tidak terdapat pengaruh antara perceived severity, perceived susceptibility, perceived barriers dan perceived benefits terhadap perilaku merokok pada perokok dengan tingkat pendapatan sangat tinggi

Hipotesis Kerja (Ha) dalam penelitian ini adalah:

Ha1: Terdapat pengaruh antara perceived severity, perceived susceptibility, perceived barriers dan perceived benefits terhadap perilaku merokok pada perokok dengan tingkat pendapatan rendah

Ha2: Terdapat pengaruh antara perceived severity, perceived susceptibility, perceived barriers dan perceived benefits terhadap perilaku merokok pada perokok dengan tingkat pendapatan sangat tinggi.

Berdasarkan analisis data pada penelitian ini menunjukkan hasil bahwa pada perokok tingkat pendapatan rendah tidak terdapat pengaruh antara perceived severity, perceived susceptibility, perceived barriers, dan perceived benefits secara simultan terhadap perilaku merokok, namun secara parsial, perceived barriers diketahui memiliki pengaruh terhadap perilaku merokok. Sedangkan bagi perokok tingkat pendapatan sangat tinggi ditemukan adanya pengaruh antara perceived severity, perceived susceptibility, perceived barriers, dan perceived benefits secara simultan terhadap perilaku merokok, dan secara parsial, perceived severity, perceived susceptibility, dan perceived benefits memiliki pengaruh terhadap perilaku merokok.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penerapan Teori Taksonomi Bloom Terhadap Perilaku Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan yang Sehat

APLIKASI TEORI HBM (HEALTH BELIEF MODEL) DALAM KASUS PENYADARAN AKAN PENTINGNYA MENJAGA KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA

DIFUSI INOVASI KESEHATAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM JAMBAN ARUM (ANTAR KE RUMAH)