Penerapan Precede Proceed Dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja
NIM : 811421037
Kelas : C
Dasar Promosi Kesehatan
S1 Kesehatan Masyarakat
Penerapan
Precede Proceed
Dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja
Model perencanaan promosi kesehatan yang sering digunakan adalah precede-proceed. Model precede-proceed memungkinkan suatu struktur komprehensif untuk menilai tingkat kesehatan, kebutuhan kualitas kehidupan dan untuk merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi promosi kesehatan dan program kesehatan public lainnya. Precede yang merupakan akronim dari “predisposing, reinforcing, and enablingcauses in educational diagnosis and evaluation”, menggambarkan perencanaan proses diagnosis untuk membantu perkembangan program kesehatan atau edukasi kesehatan. Sedangkan Proceed yang merupakan akronim untuk “Policy, Regulatory, Organizational Construct,In Educational and Enviromental Development”, mendampingi proses implementasi dan evaluasi dari program atau intervensi yang telah dirancang menggunakan precede
Kesehatan reproduksi adalah keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan sistem, fungsi dan proses reproduksi.
Permasalahan remaja terkait kasus penyimpangan seksual dan penyalahgunaan NAPZA di Indonesia saat ini terus mengalami peningkatan. Sebanyak 75% dari 3,2 juta pengguna NAPZA di Indonesia adalah remaja. Dari 84 orang responden remaja yang pernah mengalami kehamilan tidak diinginkan, 60% di antaranya melakukan aborsi. Demikian halnya dengan kondisi remaja di kawasan Lokalisasi Dolly, Surabaya.
1. Social Assessment
Nasib bangsa di masa yang akan datang tergantung dengan kualitas remaja sebagai penerus roda kepemimpinan. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia sebesar 237,6 juta jiwa, 63,4 juta diantaranya adalah remaja yang terdiri dari laki-laki sebanyak 32.164.436 jiwa (50,70%) dan perempuan 31.279.012 jiwa (49,30%). Besarnya jumlah penduduk kelompok remaja akan sangat mempengaruhi pertumbuhan penduduk di masa yang akan datang (BKKBN, 2011).
2. Epidemiological Assessment
Data Kementerian Kesehatan tahun 2010 menyebutkan pertumbuhan jumlah pengguna narkoba mencapai 3,2 juta jiwa. Sebanyak 75% di antaranya adalah remaja. Pemerintah menemukan indikator baru yakni makin sulitnya menemukan remaja putri yang masih memiliki keperawanan (virginity) di kota besar. Rentang usia remaja antara 13– 18 tahun yang pernah melakukan hubungan seks di luar nikah tercatat di Surabaya mencapai 54%, di Medan 52%, Bandung 47%, dan Jogjakarta 37% (JPNN, 2010). Alasan remaja perempuan berusia 15–24 tahun yang melakukan hubungan seksual pertama kali sebelum menikah adalah terjadi begitu saja (38,4%) dan dipaksa oleh pasangannya (21,2%). Sedangkan untuk laki-laki alasan tertinggi adalah karena ingin tahu (51,3%) dan karena terjadi begitu saja (25,8%). Dari delapan puluh empat orang responden yang pernah mengalami Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), 60% di antaranya mengalami atau melakukan aborsi (BKKBN, 2012). Demikian halnya dengan kondisi remaja di kawasan Lokalisasi Dolly, Surabaya. Lokalisasi ini memiliki 332 buah wisma yang dihuni oleh sebanyak 1.128 Wanita Pekerja Seks (WPS). Selama tahun 2011, sebanyak 99 kasus HIV/AIDS ditemukan di lokalisasi ini dan ironisnya 10 di antaranya diidap oleh non-PSK. Adanya lokalisasi ini juga menyumbangkan pengaruh yang cukup signifikan terhadap perilaku masyarakat sekitar. Lokalisasi Dolly berkontribusi 71% terhadap perilaku seks pranikah remaja kawasan lokalisasi ini. Fakta yang mengejutkan sebagai gambaran langsung dampak lokalisasi ini terhadap perilaku remaja antara lain 40,7% remaja kawasan Lokalisasi Dolly pernah meraba/diraba organ intim pasangannya. Ironisnya, 11,3% remaja Lokalisasi Dolly pernah berhubungan seksual pranikah dengan pasangannya (Kalpika, 2011).
3. Behavioral and Environment Assessment
Behavior :
• Perilaku sosioseksual permisif remaja
• Penggunaan NAPZA yang sudah biasa
• Kelompok eksklusif (gangster)
• Senang mencoba hal baru
Environment
• Lingkungan remaja di kawasan prostitusi
• Minimnya kesempatan remaja untuk berpartisipasi di lingkungannya.
4. Educational and Environmental Assessment
Predisposing Factors :
• Rendahnya pengetahuan remaja terkait kesehatan reproduksi
• Pola pikir remaja yang masih labil
• Kemampuan remaja dalam mengambil keputusan sendiri belum optimal
Reinforcing Factors :
• Kurangnya sumber informasi tentang kesehatan reproduksi
• Komunitas remaja setempat seperti karang taruna mati suri
Enabling Factors
• Adanya program kesehatan anak sekolah dan remaja oleh Puskesmas
5. Administrative and Policy Assessment
• Pendidikan kesehatan reproduksi remaja hanya mengandalkan tenaga pelayanan kesehatan atau dari Puskesmas
• Program kesehatan bagi remaja dari Puskesmas sangat terbatas dari sisi sumber berdaya (men, money, material, machine, method, market, time, technology, information)
• Belum ada sebuah wadah khusus remaja yang concern terhadap masalah kesehatan reproduksi remaja.
6. Implementation
Program pemberdayaan ini berusaha mewujudkan fasilitas pelayanan kesehatan reproduksi remaja yang ramah terhadap remaja (adolescent friendly), khususnya di wilayah berisiko seperti kawasan prostitusi. Program pemberdayaan remaja di kawasan lokalisasi Dolly, Surabaya adalah program pemberdayaan yang mengacu pada kerangka PRECEDE-PROCEED sebagai frame work pengembangan program pendidikan kesehatan.
Program ini terbukti mampu meningkatkan kognisi remaja di kawasan lokalisasi Dolly sebagai population at risk kasus penyimpangan seksual dan penyalahgunaan NAPZA. Usaha kesehatan berbasis provider (provider centered based) yang selama ini dilakukan oleh pemerintah melalui Puskesmas termodifi kasi menjadi sebuah usaha promosi kesehatan yang berbasis komunitas (community centered based) bagi remaja, di mana remaja tidak hanya ditempatkan sebagai objek tetapi dilibatkan secara aktif dalam usaha promosi kesehatan remaja. Wujud sustainability atau keberlanjutan program sebagai outcome adalah dibentuknya Rumah Remaja Komunitas Penggerak Antimadat dan Seks Bebas (KOMPAS) sebagai penghubung antarkader, kelurahan, dan puskesmas setempat untuk terus memberikan edukasi serta melakukan pendekatan personal kepada remaja lain. Rumah Remaja KOMPAS dengan program unggulan “Kafe PELACUR TOBAT” juga berfungsi sebagai pusat informasi dan edukasi masyarakat terutama remaja kawasan Lokalisasi Dolly, Surabaya mengenai kesehatan reproduksi, HIV/AIDS, dan NAPZA yang dikelola oleh para subjek pemberdayaan. Adapun poin kunci keberhasilan program ini adalah keterlibatan subjek pemberdayaan dalam setiap pengambilan keputusan (community participation) serta dukungan dari berbagai pihak (stakeholder) di kawasan lokalisasi Dolly, Surabaya. Kondisi ini membangkitkan motivasi internal subjek pemberdayaan sehingga mereka menjadikan program pemberdayaan sebagai kebutuhan.
7. Evaluation
Pendidikan kesehatan reproduksi remaja di kawasan lokalisasi Dolly, Surabaya adalah program pemberdayaan yang mengacu pada kerangka PRECEDE-PROCEED sebagai frame work pengembangan program pendidikan kesehatan. Program ini berhasil meningkatkan pengetahuan pendidik sebaya remaja di kawasan lokalisasi Dolly. Poin kunci keberhasilan model pemberdayaan ini adalah keterlibatan subjek pemberdayaan dalam setiap pengambilan keputusan selama proses pemberdayaan berlangsung. Kondisi ini membangkitkan motivasi internal subjek pemberdayaan sehingga mereka menjadikan model pemberdayaan sebagai kebutuhan.

Komentar
Posting Komentar