Pembahasan Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur dengan Aplikasi Theory Reaction Actions (TRA) atau Theory Planned Behavior (TPB)



Nama: Regina Maharani H. Ahmad

NIM: 811421131

Kelas: C
 

“Pembahasan Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur dengan Aplikasi Theory Reaction Actions (TRA) atau Theory Planned Behavior (TPB)”

Teori perilaku rencanaan (theory of planned behavior atau TPB) merupakan perkembangan lebih lanjut dari Theory of Reasoned Action (TRA). Ajzen (1998) menambahkan sebuah konstruk yang belum ada di TRA. Konstruk ini disebut dengan kontrol perilaku individual yang dibatasi oleh kekurangan-kekurangannya dan keterbatasan-keterbatasan dari kekurangan sumber-sumber daya yang digunakan untuk melakukan perilakunya (Chau dan Hu, 2002 dalam Jogiyanto, 2007).

Teori ini mengasumsikan bahwa kontrol perilaku persepsian (perceived behavioral control) mempunyai implikasi motivasional terhadap minat-minat. Orang-orang yang percaya bahwa mereka tidak mempunyai sumber-sumber daya yang ada atau tidak mempunyai kesempatan-kesempatan untuk melakukan perilaku tertentu mungkin tidak akan membentuk minat-minat perilaku yang kuat untuk melakukannya walaupun mereka mempunyai sikap-sikap yang positif terhadap perilakunya dan percaya bahwa orang lain akan menyetujui seandainya mereka melakukan perilaku tersebut (Jogiyanto, 2007).



1.     Sikap terhadap niat konsumsi buah dan sayur

Sikap merupakan evaluasi seseorang terhadap baik atau tidaknya suatu perilaku. Model Theory of Planned Behavior menjelaskan bahwa sikap berpengaruh langsung terhadap niat perilaku. Sebagai model sumatif, teori pembentukan sikap ini menyatakan bahwa sikap individu ditentukan oleh serangkaian keyakinan yang dipegangnya tentang hasil dari perilaku yang dilakukan (Fishbein dan Ajzen, 2010). Seseorang harus memiliki keyakinan bahwa perilaku yang dilakukannya akan memberikan keuntungan. Sikap konsumen berupa evaluasi atau penilaian positif pada keyakinan bahwa mengkonsumsi buah dan sayur merupakan keputusan yang baik, pilihan bijak dan bermanfaat bagi kesehatan.

Berdasarkan hasil penelitian sikap ternyata menjadi penentu langsung utama niat konsumsi buah dan sayur. Hasil analisis data menunjukan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara sikap terhadap niat konsumsi buah dan sayur (p <0.001). Artinya, semakin tinggi sikap untuk mengkonsumsi buah dan sayur semakin tinggi pula niat untuk mengkonsumsi buah dan sayur. Beberapa penelitian telah menemukan sikap merupakan prediktor signifikan dari niat terhadap konsumsi buah dan sayuran (Murnaghan et al, 2010; Prelip et al, 2011). Sebuah studi pada siswa berusia 12-16 tahun dari sekolah pedesaan dan perkotaan menemukan sikap merupakan prediktor besar niat konsumsi buah dan sayuran (Murnaghan et al, 2010). Penemuan Prelip et al (2011) menyatakan bahwa sikap hanya berpengeruh signifikan pada niat tetapi tidak berpengaruh langsung terhadap perilaku. Niat menjadi penghubung antara sikap dan perilaku. Dengan kata lain, semakin tinggi sikap maka semakin tinggi niat yang muncul tetapi belum tentu tingkat perilaku yang ditunjukkan semakin tinggi. Temuan tersebut sesuai dengan hasil pada penelitian yang sedang dilakukan.

2.     Norma subyektif terhadap niat konsumsi buah dan sayur

Prediktor langsung ketiga niat konsumsi buah dan sayur adalah norma subyektif. Menurut Baron dan Byrne (2005) menyatakan norma subyektif adalah persepsi individu tentang apakah orang lain akan mendukung atau tidak terwujudnya tindakan tersebut. Norma subjektif sebagai faktor sosial yang menunjukkan tekanan sosial yang dirasakan untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku tertentu Hal ini berarti orang-orang penting di sekitar responden dan orangorang yang berpengaruh terhadap responden memiliki pengaruh yang positif dalam pengambilan keputusan konsumsi buah dan sayur oleh mahasiswa. Responden akan memiliki niat atau motivasi yang kuat untuk mengkonsusmi buah dan sayur jika lingkungan sosialnya menyarankan untuk mengkonsumsi buah dan sayur atau konsumen melihat lingkungan sosial tersebut mengkonsumsi buah dan sayur. Pada penelitian ini, norma subjektif berpengaruh signifikan dan berada diurutan terakhir dalam mempengaruhi niat. Ini sejalan dengan Blanchard et al.(2009), yang melaporkan sedikit pengaruh tekanan sosial yang dirasakan pada mahasiswa untuk mengkonsumsi lima porsi buah dan sayur per hari. Temuan ini tidak mengherankan karena bukti telah diberikan bahwa secara umum norma subjektif adalah komponen TPB yang paling lemah terkait dengan niat (Armitage& Conner, 2010).

Saran orangtua memiliki dampak yang paling besar dalam konsumsi buah dan sayur jika dibandingkan dengan pengaruh teman dan informasi dari TV/majalah. Studi lain telah melaporkan bahwa pengaruh orang tua adalah prediktor kuat dari niat untuk konsumsi buah dan buah yang sebenarnya (Menozzi et al, 2015; Deliens et al, 2013; Ha dan Caine, 2009). Papadaki et al (2017) menemukan bahwa siswa yang tinggal jauh dari rumah keluarga mengalami penurunan konsumsi mingguan mereka dari buah segar, dan sayuran mentah maupun olahan. Penelitian Bagorodo (2013) menemukan bahwa sejak memulai perkuliahan, siswa yang tinggal jauh dari rumah(kos) telah membuat perubahan yang tidak menguntungkan dalam asupan buah dan sayuran dibandingkan dengan siswa yang tinggal di rumah. Temuan ini menegaskan pentingnya lingkungan keluarga dalam membentuk kebiasaan makan. Selain itu, diduga bahwa kurangnya pengalaman dalam merencanakan makanan atau kurangnya minat pada makanan menjadi penyebab penurunan konsumsi buah dan sayur.

3.     Kendali perilaku terhadap niat konsumsi buah dan sayur

Persepsi kendali perilaku merupakan prediktor langsung kedua terhadap niat konsumsi buah dan sayur. Hasil analisis data menunjukkan bahwa kendali perilaku memiliki pengaruh signifikan dan positif terhadap niat konsumsi buah dan sayur rendah. Artinya, responden rela mengonsumsi buah dan sayur saat mereka merasakan kendali. Sebaliknya, responden tidak berniat mengonsumsi buah dan sayur jika mereka merasa kekurangan kendali. Murnaghan et al (2010), yang mempelajari konsumsi buah dan sayuran pada remaja, menemukan kendali perilaku yang dapat digunakan untuk memprediksi niat konsumsi buah dan sayuran. Secara khusus, kendali perilaku memiliki pengaruh cukup besar pada niat untuk mengonsumsi buah dan sayuran yang sebenarnya. Guillaumi et al (2010) mendukung temuan ini juga. Mereka menemukan bahwa kendali perilaku dapat memprediksi niat dalam mengonsumsi buah dan sayur.

4.     Kendali perilaku terhadap perilaku konsumsi buah dan sayur

Persepsi kendali perilaku merupakan prediktor langsung terhadap perilaku konsumsi buah dan sayur. Hasil analisis data menunjukkan bahwa kendali perilaku memiliki pengaruh signifikan dan positif terhadap perilaku. Artinya, responden rela mengkonsumsi buah dan sayur saat mereka merasakan kendali. Tetapi, berdasarkan penemuan yang dilakukan di lapang menunjukkan bahwa meskipun responden memiliki kendali perilaku dalam mengkonsumsi buah dan sayur namun tingkat konsumsi buah dan sayur masih belum sesuai anjuran. Belum semua responden mengkonsumsi buah dan sayur setiap hari. Bertentangan dengan harapan, kendali perilaku yang dirasakan tidak dapat memprediksi pengaruh perilaku konsumsi buah dan sayuran. Meskipun responden memiliki kendali untuk membeli buah dan sayur namun tingkat konsumsi masih berada dalam tingkat sedang (3-6 kali dalam seminggu).

Serupa dengan hasil dari studi perilaku konsumsi pada orang dewasa muda Australia (Kothe et al, 2014; Mullan et all, 2014). Ia berpendapat bahwa meskipun kendali perilaku yang dirasakan dapat memprediksi niat untuk mengkonsumsi buah dan sayuran, namun tidak berdampak langsung pada orang dewasa muda. Pengaruh kendali perilaku yang dirasakan pada perilaku yang terpisah dari niat sering diartikan sebagai kurangnya kendali yang sebenarnya atas perilaku. Efek ini dapat dihitung oleh tingkat aktual kontrol aktual yang sebenarnya atas buah dan sayuran (Ajzen, 2005). Studi lain menunjukkan bahwa meskipun kendali perilaku memiliki pengaruh yang positif terhadap perilaku namun konsumsi buah dan sayur masih rendah. Kesehatan adalah nilai penting dalam pemilihan makanan konsumen, namun pilihan makanan yang sebenarnya seringkali tidak mencerminkan kepentingan ini (Gallagher dan Updegreff, 2012). Memiliki tanggung jawab atas keputusan untuk belanja makanan dan persiapan (memasak makanan) dapat menyebabkan kebiasaan diet yang tidak sehat di kalangan mahasiswa yang tinggal jauh dari rumah (Bagodo et al, 2013). Jadwal mahasiswa yang padat diduga menjadi salah satu penyebab rendahnya konsumsi buah dan sayur (Houben dan Janson, 2011). Selain itu pilihan variasi buah dan sayur yang ditawarkan di lingkungan sekitar mahasiswa dapat menjelaskan alasan rendahnya konsumsi buah dan sayur (Mariana et al, 2018).

5.     Niat terhadap konsumsi buah dan sayur

Berdasarkan Theory of Planned Behaviour niat merupakan prediktor langsung perilaku. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hipotesis diterima atau terbukti bahwa niat berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku konsumsi buah dan sayur. Semakin tinggi niat seseorang untuk melakukan perilaku, akan semakin meningkatkan kecenderungan terhadap perilaku tersebut.

Menurut Ajzen niat merupakan faktor yang paling bisa memprediksi keputusan seseorang untuk melakukan perilaku. Seperti pada umumnya, semakin kuat niat seseorang untuk melakukan suatu perilaku semakin besar pula kemungkinan usaha yang diperbuat. Hubungan antara niat dengan perilaku konsumsi buah dan sayur juga didukung oleh beberapa penelitian terdahulu. Penelitian Godin et al (2010); Collins dan Mulan (2011); dan Blanchard et al (2009) menyatakan bahwa niat telah terbukti memiliki hubungan yang signifikan terhadap perilaku konsumsi buah dan sayur.

Hasil analisis data menyatakan bahwa niat memiliki pengaruh positif terhadap perilaku konsumsi buah dan sayur namun ternyata tingkat konsumsi buah dan sayur masih rendah. Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan bahwa rata-rata responden mengkonsumsi sayur antara 3 kali sampai 6 kali dalam satu minggu. Padahal asupan konsumsi buah dan sayur yang dianjurkan Riskesdas adalah sebanyak 500 gram sayur setiap harinya. Penelitian Appleton (2009) menyatakan bahwa niat telah terbukti menjadi faktor penting dalam perilaku konsumsi buah dan sayur tetapi niat yang dimaksud belum terwujud maksimal dalam bentuk tindakan (perilaku). Sehingga, walaupun memiliki niat yang tinggi dalam mengkonsumsi buah dan sayur namun belum diwujudkan dengan perilaku konsumsi yang tinggi. Dalam beberapa kasus, niat tidak selalu diterjemahkan ke dalam perilaku. Perbedaan ini menghasilkan 'celah' teoritis antara niat dan perilaku (Sniehotta et al, 2015). Kesenjangan ini terbukti dalam beberapa studi yang telah menerapkan TPB untuk konsumsi buah dan sayuran (Kothe et al., 2011; Mullan dan Xavier, 2013). Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pengaplikasian niat ke dalam tindakan mungkin terkait dengan kemampuan seseorang untuk mengatur diri sendiri dalam menentukan perilaku mereka. Pengaturan diri (self regulation) telah didefinisikan sebagai pengaturan yang disengaja dari sisi internal individu dalam menanggapi pemicu lingkungan, pada pengelolaan pola perilaku (Baumeister et al 2012). Penelitian telah menemukan aspek pengaturan diri menjadi penting untuk berbagai perilaku kesehatan salah satunya konsumsi buah dan sayur (Mullan dan Xavier, 2013). Faktor pengaturan diri tidak diteliti dalam penelitian yang dilakukan penulis. Sehingga berdasarkan studi literatur yang dilakukan penulis faktor pengaturan diri diduga menjadi penyebab rendahnya konsumsi buah dan sayur. Berdasarkan hasil analisis, sikap merupakan predictor utama yang mempengaruhi niat. Untuk meningkatkan sikap dapat dilakukan dengan cara meningkatkan pengetahuan menggenai manfaat konsumsi buah dan sayur. Jika memiliki pengetahuan yang mencukupi mengenai manfaat konsumsi buah dan sayur maka responden akan merasa lebih yakin bahwa konsumsi buah dan sayur merupakan perilaku yang menguntungkan.

Kendali perilaku dapat mempengaruhi perilaku baik secara langsung maupun melalui niat. Berdasarkan fakta di lapang menunjukkan bahwa rata-rata responden memiliki kemampuan secara ekonomi dan memiliki akses untuk membeli buah dan sayur. Namun, konsumsi aktual sayur dan buah masih rendah. Sehingga, untuk meningkatkan konsumsi buah dan sayur dapat dilakukan dengan cara memudahkan mahasiswa dalam membeli buah dan sayur. Selain itu, pilihan buah dan sayur yang ditawarkan sebaiknya lebih beragam.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penerapan Teori Taksonomi Bloom Terhadap Perilaku Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan yang Sehat

APLIKASI TEORI HBM (HEALTH BELIEF MODEL) DALAM KASUS PENYADARAN AKAN PENTINGNYA MENJAGA KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA

DIFUSI INOVASI KESEHATAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM JAMBAN ARUM (ANTAR KE RUMAH)