Penerapan Health Belief Model Terhadap Keputusan Keluarga Untuk Melakukan Kunjungan Ke Puskesmas Dalam Penanganan Dini DENGUE HAEMORHAGIC FEVER (DHF)

 



NAMA            : Yatmin S. Tomayahu

NIM                : 811421154

Kelas               : C

Kelompok       : 2

MK                  : Dasar Promosi Kesehatan

S1 KESEHATAN MASYARAKAT

 

PENERAPAN HEALTH BELIEF MODEL

TERHADAP KEPUTUSAN KELUARAG UNTUK MELAKUKAN KUNJUNGAN KE PUSKESMAS DALAM PENAGANAN DINI

DENGUE HAEMORHAGIC FEVER (DHF)

 

Model kepercayaan kesehatan atau health belief model merupakan salah satu model penggunaan pelayanan kesehatan yang didasarkan pada kenyataan bahwa problem problem kesehatan ditandai oleh kegagalan masyarakat untuk menerima usaha pencegahan dan penyembuhan penyakit yang diselenggarakan oleh provider (Notoatmodjo, 2007). Masyarakat yang menderita penyakit dan tidak merasakan sakit tidak akan bertindak terhadap penyakitnya tersebut. Tetapi bila masyarakat diserang penyakit dan juga merasakan sakit, maka baru akan timbul berbagai macam perilaku dan usaha (Notoatmodjo, 2007). Puskesmas merupakan lini terdepan yang memberikan pelayanan kesehatan masyarakat secara menyeluruh (Susilo, 2008). Penyakit Degue Haemorhagic Fever (DHF) merupakan salah penyakit menular yang satu masih menjadi masalah kesehatan pada negara berkembang termasuk Indonesia (Depkes RI, 2005). Kasus Degue Haemorhagic Fever (DHF) di Puskesmas Tembok Dukuh Surabaya berada diurutan kedua di wilayah Surabaya. Oleh sebab itu, berdasarkan program pokok Puskesmas, prioritas kinerja pada upaya penanggulangan DHF lebih ditingkatkan. Pemilihan prioritas upaya penanggulangan DHF dikarenakan DHF selalu ada di wilayah kerja Puskesmas, salah satunya adalah Kelurahan Tembok Dukuh di Kecamatan Bubutan yang merupakan salah satu kelurahan yang endemis. Berdasarkan data awal yang didapatkan oleh peneliti pada tanggal 15 Juni 2009 di Puskesmas Tembok Dukuh, keluarga di Kelurahan Tembok Dukuh Surabaya yang menderita DHF pada tahun. 2007 sebanyak 34 orang (44,16%). pada tahun 2008 sebanyak 22 orang (28,57%), dan pada tahun 2009 sebanyak 21 orang (27,27%). Pada tahun 2013 mengalami penurunan sebesar 15,59% sedangkan pada tahun 2014 mengalami peningkatan. Hal ini dapat ditunjukkan dari bulan Januari sampai dengan Juli 2014 jumlah penderita sudah mencapai 27,27%.

Gejala Degue Haemorhagic Fever (DHF) hampir sama dengan gejala demam biasa sehingga sulit membedakan kedua penyakit tersebut. Tingginya kasus kematian penderita akibat DHF terjadi karena penderita terlambat dibawa berobat ke Rumah Sakit atau Puskesmas. Jika penderita DHF terlambat untuk ditangani, akibatnya sering fatal, yaitu bisa langsung merenggut nyawa karena gejala dan tanda DHF tidak selalu tampil nyata sehingga tidak selalu mudah dikenali (Nadesul, 2007). Menurut Rosenstock (1982) dalam Sarwono (2004), Masyarakat atau keluarga tidak akan mencari pertolongan medis atau pencegahan penyakit bila keluarga kurang mempunyai pengetahuan dan motivasi minimal yang relevan dengan kesehatan, bila keluarga memandang keadaan tidak cukup berbahaya, bila tidak yakin terhadap keberhasilan suatu intervensi medis, dan bila keluarga melihat adanya beberapa kesulitan dalam melaksanakan perilaku kesehatan yang disarankan. Model kepercayaan kesehatan (Health Belief Model) dari Rosenstock (1982) dalam Sarwono (2004), meliputi: kerentanan yang dirasakan terhadap suatu penyakit, keseriusan yang dirasakan, manfaat yang diterima, rintangan-ritangan yang dialami dalam tindakannya melawan penyakit, dan isyarat atau tanda tanda yang mendorong tindakan tersebut.

Kepercayaan keluarga mengunjungi Puskesmas dapat menolong proses penyembuhan penyakit termasuk penanganan dini penderita DHF diharapkan mampu menurunkan jumlah penderita DHF di wilayah penelitian yaitu wilayah kerja Puskesmas Tembok Dukuh dengan cara deteksi dini terhadap tanda dan gejala yang ditimbulkan sehingga penderita tidak terlambat mendapatkan pertolongan. Salah satu fungsi Puskesmas adalah membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat. Oleh sebab itu, keputusan keluarga untuk melakukan kunjungan ke Puskesmas tersebut merupakan langkah awal terhadap perubahan perilaku dalam menghadapi masalah kesehatan yang berkelanjutan serta demi terwujudnya kemandirian dalam bidang kesehatan di dalam keluarga dan masyarakat. Berdasarkan fakta di atas, peneliti tertarik untuk menganalisis penerapan health belief model terhadap keputusan keluarga untuk melakukan kunjungan ke Puskesmas dalam penanganan dini DHF.

1.    Data umum

a.     Karakteristik berdasarkan umur responden

Dilihat dari segi umur, menunjukkan bahwa hampir setengah dari jumlah responden (46%) dengan anggota keluarga penderita DHF di Kelurahan Tembok Dukuh Kecamatan Bubutan, Surabaya berusia 35-44 tahun.

b.   Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin. Dilihat dari jenis kelamin menunjukkan bahwa yang bersedia menjadi responden dengan anggota keluarga penderita DHF di Kelurahan Tembok Dukuh Kecamatan Bubutan, Surabaya sebagian besar (83%) berjenis kelamin perempuan.

d.   Karakteristik responden berdasarkan jumlah anggota keluarga Dilihat dari jumlah anggota keluarga dalam setiap keluarga, menunjukkan bahwa lebih dari setengah (66%) dari jumlah responden dengan anggota keluarga penderita DHF di Kelurahan Tembok Dukuh Kecamatan Bubutan, Surabaya memiliki anggota keluarga berjumlah 4 orang.

    Karakteristik responden berdasarkan pendidikan terakhir Dilihat dari tingkat pendidikan, menunjukkan bahwa sebagian besar responden (75%) dengan anggota keluarga penderita DHF di Kelurahan Tembok Dukuh Kecamatan Bubutan, Surabaya merupakan tamatan SMU.

f.    Karakteristik yang bekerja responden berdasarkan anggota keluarga Dilihat dari anggota keluarga yang bekerja, menunjukkan bahwa sebagian besar responden (84%) dengan anggota keluarga penderita DHF di Kelurahan Tembok Dukuh Kecamatan Bubutan, Surabaya yang bekerja adalah ayah sebagai kepala keluarga.

g.   Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan Dilihat dari segi pekerjaan, menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden (68%) dengan anggota keluarga penderita DHF di Kelurahan Tembok Dukuh Kecamatan Bubutan, Surabaya bekerja sebagai Pegawai swasta. 

h.  Karakteristik responden berdasarkan penghasilan Dilihat dari segi penghasilan, menunjukkan bahwa kurang dari setengah dari jumlah responden (26%) dengan anggota keluarga penderita DHF di Kelurahan tembok Dukuh Kecamatan Bubutan, Surabaya memiliki penghasilan sebesar <1 juta rupiah. 

i.  Karakteristik responden berdasarkan suku bangsa Dilihat dari segi suku bangsa, menunjukkan bahwa responden dengan anggota keluarga penderita DHF di Kelurahan Tembok Dukuh Kecamatan Bubutan, Surabaya sebagian besar (89%) berasal dari suku Jawa.

j.   Karakteristik responden berdasarkan agama Dilihat dari segi agama, menunjukkan bahwa sebagian besar responden (92%) dengan anggota keluarga penderita DHF di Kelurahan Tembok Dukuh Kecamatan Bubutan, Surabaya beragama Islam.

k.   Karakteristik responden berdasarkan pengambil keputusan di keluarga Anggota keluarga penderita DHF di Kelurahan Tembok Dukuh Kecamatan Bubutan, Surabaya dalam pengambilan keputusan untuk membawa berobat ke Puskesmas jika ada anggota keluarga yang sakit atau dicurigai menderita demam berdarah, hampir setengah dari jumlah responden (45%) dilakukan oleh ibu.

2.    Data khusus

a.       Identifikasi kerentanan yang dirasakan keluarga (perceived susceptibility) Lebih dari setengah responden (55%) mengalami kerentanan yang sedang terhadap penyakit DHF.

b.      Identifikasi keseriusan yang dirasakan keluarga (perceived seriousness) Hampir setengah responden (46%) mengalami keseriusan yang tinggi terhadap kegawatan akibat. penyakit DHF apabila penderita tidak segera mendapatkan penanganan.

c.       Identifikasi manfaat yang dirasakan keluarga (perceived benefits) Lebih dari setengah responden (62%) merasakan manfaat ketika keluarga melakukan kunjungan ke Puskesmas dalam penanganan dini anggota keluarga yang menderita DHF.

d.      Identifikasi rintangan yang dialami keluarga (perceived barrier) Lebih dari setengah keluarga yang menjadi responden (74%) mengalami rintangan ketika akan melakukan kunjungan ke Puskesmas dalam penanganan dini anggota keluarga yang menderita DHF.

e.       Identifikasi faktor pendorong untuk bertindak (cues to action) Menunjukkan bahwa responden (100%) dari 65 keluarga yang menjadi responden dalam penelitian ini di Kelurahan Tembok Dukuh Kecamatan Bubutan, Surabaya memiliki faktor pendorong untuk melakukan kunjungan ke Puskesmas atau sarana kesehatan yang lain dalam penanganan dini penderita DHF.

f.       Karakteristik responden berdasarkan pemberi saran pengambilan keputusan untuk melakukan kunjungan ke puskesmas secara keseluruhan lebih dari setengah responden (51%) yang melakukan kunjungan ke puskesmas jika ada anggota keluarga yang dicurigai menderita DHF atas inisiatif keluarga sendiri

g.      Karakteristik responden berdasarkan proses pengambilan keputusan untuk melakukan kunjungan ke pusksmas sebagian besar responden (75%) membicarakan terlebih dahulu dengan anggota keluarga yang lain dalam proses pengambilan keputusan untuk melakukan kunjungan ke puskesmas dalam penganan dini penderita DHF.

h.      Karakteristik responden berdasarkan keinginan berobat ke tempat lain selain puskesmas sebagian besar responden (85%) memiliki keinginan untuk berobat ke tempat pelayanan kesehatan yang lain selain di puskesmas.

i.        Identifikasi keputusan keluarga untuk melakukan kunjungan ke puskesmas dalam penanganan dini DHF. Kurang dari setangh responden (45%) memutuskan untuk berobat ke puskesmas jika ada anggota keluarga yang tercurigai menderita DHF

 

3.    Data keterangan yang dirasakan keluarag (perceived susceptibility) dalam kaitannya dengan keputusan keluarga untuk melakukan kunjungan puskesmas dalam penanganan dini dengue kaemorhagic fever (DHF)

Di ketahui bahwa sebagian besar keluarga memiliki keputusan yang mantap untuk berobat ke puskemas jika terdapat anggota keluarga yang menderita DHF berbeda pada tingkat kerentanan yang sedang yaitu sebesar (65,5%).

Keluarga yang tidak memikili kemantapan untuk berobat ke puskesmas sebagian besar berada pada kerentanan yang sedang pula yaitu sebesar (47,2%).

 

4.    Data keseriusan yang di rasakan keluarga (preceived seriousness) dalam kaitannya dengan keputusan keluarga untuk melakukan kunjungan ke puskesmas dalam penanganan dini dengue haemorhagic fever (DHF)

Diketahui bahwa sebagian besar keluarga memiliki keputudan yang mantap untuk berobat ke puskesmas jika terdapat anggota keluarga yang menderita DHF berbeda pada tingkat keseriusan yang rendah yaitu sebesar (41,4%).

Keluarga yang tidak memiliki kemantapan untuk berobat ke puskesmas jika terdapat anggota keluarga yang menderita DHF karena keluarga menganggap berobat ke puskesmas adalah keputusan yang kurang tepat, sebagiam besar pada tingkat keseriusan yang tinggi yaitu sebesar (55,5%).

 

Menurut Notoatmodjo (2007), kerentanan yang dirasakan keluarga (perceived susceptibility) adalah suatu tindakan pencegahan terhadap suatu penyakit akan timbul bila seseorang telah merasakan bahwa seseorang mengetahui keluarganya rentan terhadap penyakit tersebut. Dalam penelitian ini sebagian besar responden (55%) mengalami kerentanan yang sedang terhadap penyakit DHF karena sebagian besar keluarga telah mendapakan informasi mengenai penyakit DHF dan penanganannya melalui media massa, seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, internet. sebagian besar responden (75%) berpendidikan menengah ke atas dan lebih dari setengah responden (61,5%) mendapatkan informasi tentang penyakit DHF dan penanganannya. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin mudah orang tersebut menerima informasi, baik dari orang lain maupun dari media massa. Notoatmodjo (2007) menyatakan bahwa tingkat pendidikan mempunyai efek tidak langsung pada perilaku yang berpengaruh pada pengertian dari kerentanan yang dirasakan, keseriusan yang dirasakan, serta manfaat dan penghalang dalam pengambilan tindakan pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit. Terdapat beberapa faktor lain yang dapat memepengaruhi kecemasan terhadap kerentanan yang dirasakan oleh keluarga, antara lain : perbedaan demografi (usia,jenias kelamin, pendidikan, pekerjaan, tingkat ekonomi, kelom[ok etrnis, dan agama), pengetahuan pengalaman, sumber informasi, dan latar belakang yang lain.

Keseriusan yang dirasakan keluarga (perceived seriousness) tersebut meliputi pemahaman keluarga tentang penyakit DHF, kegawatan penyakit DHF, dan kecemasan akan kondisi anggota keluarga yang menderita DHF. Keluarga yang menjadi responden (21,5%) memiliki keputuasn yang mantap untuk beribat ke puskesmas jika terdapat anggota keluarga yang menderita dengue haemorhagic fever (DHF) berada pada tingkat keseriusan yang rendah (41,4%) . sebaliknya hampir setengah dari jumlah responden (46,2%) berada pada tingkat keseriusan yang tinggi (55,5%) memiliki keputusan yang tiddak mantap untuk berobat ke puskesmas karena keluaarga menganggap bahwa puskesmas tidak dapat memberikan penangan dengan cepat dan tepat.

Sebagian besar responden (67,7%) terdorong untuk melakukan kunjungan ke puskesmas atau sarana kesehatan yang lain dalam penanganan dini penderita DHF karena  gejala dan tingkat keparahan penyakit demam berdarah yang tampak pada penderita.sesuai dengan pendapat sarwono (2004) yang menyatakan bahwa keseriusan merupakan resiko kesulitan yang akan dirasakan individu terhadap suatu penyakit. Semakin besar suatu penyakit dan semakin besar kemungkinannya bahwa individu dapat terserang penyakit,  semakin besar pula keseriusan yang dirasakan individu. Individu akan mengambil tindakan pencegahan apabila mereka percaya bahwa penyakit tersebut berpotensi menimbulkan dampak yang serius.

Menurut Notoatmodjo (2007), semakin besar manfaat diperoleh akan memperkuat individu untuk mengambil keputusan melakukan tindakann tersebut, yaitu memilih berobat ke puskesmas walaupun harus disertai dengan rintangan yang dialami.

Individu akan melakukan tindakan rentan apabila individu merasa dirinya rentan terhadap penyakit yang dianggap serius dan dapay membahayalan diri sendiri dan orang-orang sekitar. Tindakan tersebut tergantung pada manfaat yang dirasakan dalam mengambil tindakan tersebut (Notoatmodjo 2002).

Manfaat yang dirakan keluarga sebesar (52,5%) responden adalah mendapatkan penanganan dengan cepat saat melakukan kunjungan ke puskesmas jika salah satu anggota keluarga dicurigai menderita DHF. Manfaat yang dirasakan keluarga saat melakukan kunjungan ke puskesmas adalah penderita dapay terhindar dari kegawatan akibat penyakit DHF, dan penderita juga terhindar dari kematian akibat terlambat penanganan.

Rintangan yang dialami keluarga tersebut meliputi keterjangkauan fisik, pengorbanan waktu. Maggie Davies dan Wendy Macdowall (2006) menyatakan bahwa individu akan melakukan suatu penvegahan dan pemeliharaan kesehatan apabila dalam diri individu terdapat keyakinan abhwa manfaat yang akan diperoleh dari suatu tindakan jauh lebih besar apanila diabndingkan dengan rintangan yang mungkin dialami ketika memutuskan untuk melakukan tindakan tersebut. Namun, terkait dengan hasil penelitian, pada umumnya keluarga lebih memperhatikan hal-hal yang menjadi rintangan tersebut menjadi hambatan atau kendala tersebut bagi keluaraga untuk segera mendapatkan pertoolongan atau penanganan anggota keluarag yang menderita DHF. Fakor pendorong keluarag untuk bertindak tersebut meliputi media informasi tentang penanganan dini penyakit DHF, informasi mengenai penanganan dini DHF dapat diperoleh dari berbagai sumber, diantaranya adalah melalui media massa, seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, internet, dan dapat pula diperoleh dari penjelasan atau penyuluhan petugas dari puskesmas, dan informasi yang doberikan oleh teman atau para tetangga yang mempunyai pengalaman terkait dengan penyakit DHF. Selain media cetak maupun media eletrinik, petugas kesegatan dan kader posyandu (PKK) juga memegang peranan penting dalam menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat.

Petugas kesehatan mempunyai peranan yang cukup besar dalam menyampaikan informasi tentang memelihara dan meningkatkan kesehatan keluarga. Namun,  sampai saat ini peranan petugas puskesmas tersebut kurang optimal. Keterjangkuan informasi tersebut terkait dengan pengambilan keputusan atau tindakan yang tepat. Pengambilan keputusan diawali dengan dasarnya masalah tertentu yang memerlukan pemecahan. Terhadap suatu masalah yang timbul pada umummnya dapat dilakuakn berbagai cara pemecahan. Setiap pemecahan mengandung kelebihan dan kelemahan tertentu. Untuk dapat membyat keputusan yang paling menguntungkan atau keputusan yang rasional perlu dikembangkan semua alternatif yang melekat pada masalah pengambilan keputusan  (Pangewa,2004).

Identifikasi keputusan keluarga untuk melakukan kunjungan ke puuskesmas dalam penanganan dini DHF, memutuskasn untuk berobat ke puskesmas jika ada anggota keluarga yang dicurigai menderita DHF. Sebagaimana yang di ungkapkan Gitosudarmo dan Sudita (2002), nilai-nilai individu pengambil keputusan terkait dengan salah satu fungsi puskesmas, yaitu memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat meruapakan keyakinan dasar yang digunakan seseorang jika dihadapakan pada permasalahan dan haru mengambil suatu keputusan. Hal ini juga berlaku dalam pengambilan keputusan keluarga untuk melakukan kunjungan ke puskemas jika ada anggota keluarga yang dicurigai menderita DHF, diharapkan keluarga mampu mengambil keputusan yang tepat ketika memutuskan untuk berobta ke puskesmas.

Penerapan health belief model yang meliputi kerentanan, keseriusan, manfaat, rintangan, dan fsktor pendorong sangat diperlukan bagi keluarga untuk menanganu masalah kesehayan yang dialami oleh anggota keluarga seperti penyakit DHF, agar tidak terjadi kegawtan akibat keterlambatan penanganan penyakit DHF dan untuk mempercepat proses penyembuhan penderita agar terhindar dari bahaya kematian. Salah satu upaya yang dapatdilakukan yaitu dengan deteksi dini penyakit DHF sehingga kegawatan dapat dicegah. Keputusan keluarga untuk melakukan kunjungan ke puskesmas dapat mengetahui penyakit yang diderita anggota keluarga lebih cepat, sehingga apabila ditemukan tanda-tandakegawatan, maka penderita segera mendapatkan penanganan yang tepat sejak dini.

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penerapan Teori Taksonomi Bloom Terhadap Perilaku Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan yang Sehat

APLIKASI TEORI HBM (HEALTH BELIEF MODEL) DALAM KASUS PENYADARAN AKAN PENTINGNYA MENJAGA KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA

DIFUSI INOVASI KESEHATAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM JAMBAN ARUM (ANTAR KE RUMAH)