PENERAPAN PRECEDE PROCEED DALAM PENANGGULANGAN TB

 


Nama : Farhana Shinta Junus

NIM : 811421214

Kelas : C

Dasar Promosi Kesehatan

S1 Kesehatan Masyarakat

Penerapan Precede Proceed Model

Dalam Penanggulangan TB

 Model perencanaan promosi kesehatan yang sering digunakan adalah precede-proceed. Model precede-proceed memungkinkan suatu struktur komprehensif untuk menilai tingkat kesehatan, kebutuhan kualitas kehidupan dan untuk merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi promosi kesehatan dan program kesehatan public lainnya. Precede yang merupakan akronim dari “predisposing, reinforcing, and enablingcauses in educational diagnosis and evaluation”, menggambarkan perencanaan proses diagnosis untuk membantu perkembangan program kesehatan atau edukasi kesehatan. Sedangkan Proceed yang merupakan akronim untuk “Policy, Regulatory, Organizational Construct, In Educational and Enviromental Development”, mendampingi proses implementasi dan evaluasi dari program atau intervensi yang telah dirancang menggunakan precede.

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri mycobacterium tuberculosis di paru-paru. Bakteri tuberkulosis yang menyerang paru-paru ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan, seperti batuk kronis dan sesak napas.

1.     Social Assessment

Penanggulangan Tuberculosis (TB)  di  Indonesia  saat  ini  sudah  lebih baik,    hal    ini    terlihat    dari    peringkat negara  dengan  kasus  TB  terbanyak  yang menurun menjadi urutan ke-5, sebelumnya  urutan  ke-3  (tahun  2007). Data  tersebut  berdasarkan  laporan WHO Global  Tuberculosis  Control,  Short  Update to the 2009 report. Artinya insiden/kasus baru  penyakit  TB  mengalami  penurunan yang  signifikan,  tahun  2007  total  kasus TB  528.000  dan  tahun  2008  sebanyak 429.730 kasus.

Hasil dan pencapaian program TB di  Indonesia  mengalami  kemajuan  yang cepat   dengan   penemuan   kasus   69,8% (2007)   dan   73,1%   (2009).   Sedangkan angka  keberhasilan  pengobatan  sebesar 91%  pada  tahun  2008  (melebihi  target global   85%   selama   7   tahun   terakhir). Target    pencapaian    angka    penemuan kasus TB Paru Case Detection Rate(CDR) adalah   70%,   dan   tahun   2009   sudah mencapai 73,1%. Untuk target pencapaian angka keberhasilan pengobatan   adalah   85%,   tahun   2009 sudah   86,4%.   Insiden   TB   Paru   sejak tahun  1998  sampai  tahun  2005  trennya menurun dan rata-rata penurunan insiden TB Paru positif tahun 2005-2007 adalah 2,4%.

2.     Epidemiological Assessment

Adanya tantangan besar dalam pengendalian TB yaitu pengobatan yang masih  membutuhkan  waktu  yang  cukup lama (6   bulan), belum adanya vaksin untuk  penyakit  TB,  dan  ketidakteraturan minum obat bagi pasien sehingga kemungkinan  terjadi  MDR.  Oleh karena itu, perlu penguatan manajemen program danlayanan serta adanya komitmen, respon dan keterpaduan perencanaan, pelaksanaan, penilaian. Salah satu program   dan   layanan   yang dinilai   telah   berhasil   terutama   dalam pemberadayaan kesehatan keluarga yaitu program Family Folder bagi penderita  TB.

Program Family  Folder ini merupakan bagian dari pelayanan kedokteran keluarga yang lebih mengutamakan upaya pencegahan penyakit serta pelayanan yang menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan. Kegiatan yang dilakukan adalah memberikan penyuluhan,   menilai   status   kesehatan anggota  keluarga  pasien,  menilai  kondisi sosial ekonomi keluarga serta melaksanakan  strategi Directly  Observed Treatment  Short  Course (DOTS).

Namun dalam pelaksanaannya ternyata dilapangan para petugas teknis memerlukan   analisis   yang   menyeluruh agar   program   berjalan   sesuai   dengan harapan    yaitu    meningkatnya    kualitas hidup     penderita     TB     dengan     tanpa menularkan TB pada keluarganya.

3.     Behavioral and Environment Assessment

Kajian mengenai analisis perilaku    di    berbagai    daerah    di Indonesia   oleh   para   peneliti   dan praktisi kesehatan menunjukkan bahwa   perilaku   tidak   sehat   telah berkontribusi terhadap penyebab dan keparahan penyakit TB. Perilaku manusia    mempunyai bentangan yang sangat luas, mencakup berbicara, berjalan, bereaksi, berpakaian    dan    lain    sebagainya. Bahkan    kegiatan    internal    seperti berpikir,   persepsi   dan   emosi   juga merupakan perilaku manusia. Penelitian    Aris dalam    Syahdrajat menunjukkan   bahwa   faktor-faktor yang  mempengaruhi  penularan  TB paru    adalah    kebiasaan    merokok. Sedangkan penelitian Musadad dalam Syahdrajat menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penularan TB paru adalah keberadaan  penderita  TB  lebih  dari satu  orang  dalam  rumah,  masuknya sinar   matahari   dalam   rumah,   dan kebiasaan tidur dengan balita. Untuk itu,  dalam  penanganan  TB  tindakan preventif  lebih  diutamakan.  Pasien dan   keluarganya   dianjurkan   untuk menjaga higiene, memperbaiki ventilasi rumah, menghindari kebiasaan merokok, beristirahat cukup, mengkonsumsi makanan bergizi,  dan  menghindari  kebiasaan tidur dengan balita. Faktor lingkungan di luar kendali individu memodifikasi pengaruh hasil kesehatan. Pada faktor lingkungan selain lingkungan fisk yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan dalam penelitian Limbu dan Marni menunjukkan bahwa keluarga adalah lingkungan sosial yang sangat berpengaruh akan kesakitan ataupun  kesembuhan  dari  penderita TB.

4.     Educational and Environmental Assessment

·       Faktor  predisposisi adalah  faktor penguat   dari   dalam   individu   yang berupakarakteristik  seseorang  atau populasi   yang memotivasi   perilaku sebelum     atau     selama     terjadinya perilaku yang telah dijabarkan diatas. Mereka termasuk pengetahuan individu,  keyakinan,  nilai,  dan  sikap. Pada beberapa kajian terkait karekteristik individu penderita TB ternyata   menunjukkan   bahwa   ada peningkatan   kualitas   hidup   melalui berbagai    intervensi pribadi. Salah satu penelitian yang jelas menyatakan hal tersebut adalah penelitian dari Suminar yang menunjukkan  bahwa  kualitas  hidup pasien tuberkulosis paru dipengaruhi secara signifikan oleh usia,  jenis kelamin, dandurasi atau lamanya pengobatan. Disini menunjukkan bahwa tidak dapat dipungkiri karakteristik individu terkait demografi   dan   kognitif masyarakat sangat mempengaruhi perilaku kesehatan seseorang hingga seseorang tersebut terjangkit penyakit TB.

·       Faktor Reinforcing adalah faktor pendukung  masyarakat  yang berupa mereka karakteristik lingkungan yang memfasilitasi tindakan   dan   setiap   keahlian   atau sumber  daya  yang  diperlukan  untuk mencapai perilaku tertentu. Termasuk program-program, layanan, ketersediaan dan aksesibilitas     sumber     daya,     atau keterampilan  baru  yang  diperlukan untuk    memungkinkan    perubahan perilaku.

5.     Administrative and Policy Assessment

Faktor ini adalah faktor yang    berkaitan    dengan sumber daya,    pembangunan    dan    alokasi anggaran, melihat hambatan organisasi,  dan  koordinasi  program dengan    semua    departemen    lain, termasuk   organisasi   eksternal   dan masyarakat dalam  pencegahan  dan penangulangan TB. Diagnosa Administrasi untuk menilai kebijakan,   sumber   daya,   keadaan, situasi  organisasi  yang  berlaku  yang dapat menghambat atau memfasilitasi pengembangan program kesehatan. Saat ini mungkin   Indonesia   terkait   masalah TB masih dibantu oleh Global Found terkait anggarannya   namun   nyata dan   efektif   lembaga   pendonor   ini meningkatkan kinerja secara administratif dan meningkatkan kebijakan  kesehatan  terkait  layanan TB.    Hal    ini    menunjukkan    selain pemerintah sebagai stakeholder utama,   peran Civil   Society sangat membantu menginisiasi dan melakukan   pemberdayaan   kepada masyarakat.  Beberapa  LSM  di  luar negeri  telah  berhasil  melaksanakan perannya     dalam     strategi     DOTS.

6.     Implementation

Program Family Folder hingga  saat  ini belum    banyak    diterapkan    namun keberhasilannya sebagai comunity partnership layak dilanjutkan sebagai model intervensi pemberdayaan kesehatan masyarakat. Salah satu metode Family  Folder yang  sudah  berhasil dilakukan  yaitu  yang  dilakukan  oleh Syahdrajat   di   Cawang   Jawa   Barat. Family Folder yang  dilakukan  melalui metode  pendekatan  yang  digunakan yaitu   metode pelayanan kesehatan yang menggabungkan pelayanan rawat jalan dengan kunjungan rumah. Kegiatan ini mengambil contoh  kasus  seorang  pasien  Klinik Menyehatkan  Bangsa  (KMB)  Cawang dengan  diagnosis  tuberkulosis  paru. Kegiatan     yang dilakukan adalah memberikan penyuluhan, menilai status kesehatan anggota   keluarga pasien, menilai kondisi sosial ekonomi keluarga serta Melaksanakan Strategi Directly Observed Treatment Short Course (DOTS). Hasilnya menunjukkan Family Folder berperan dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan  perilaku  pasien  dan  keluarganya terhadap tuberkulosis;  mengenali gejala   dini   penularan   tuberkulosis pada anggota keluarga; memanfaatkan potensi pasien dan keluarganya dalam menangani masalah yang timbul dan mendukung pelaksanaan DOTS. Untuk menjamin kesinambungan pelayanan   kesehatan,   program   ini tetap    dilaksanakan    setelah    pasien menyelesaikan   enam    bulan   terapi dan mengalami kesembuhan. Kabupaten   Jember   di   wilayah kerja   Puskesmas   Pakusari   dengan beberapakasus TB pada penderitanya  yang  mengalami Drop Out (DO) juga telah mencoba menerapkan Family   Folder dengan keberhasilannya menggunakan model    kemitraan    puskesmas    dan praktisi swasta yang menitik beratkan pada pentingnya pemanfaatan    pelayanan    kesehatan oleh keluarga dan predisposisi keluarga   untuk   menggunakan   jasa pelayanan    kesehatan,    kemampuan keluarga untuk mempraktikkan perawatan, pencegahan dan pengobatan yang didampingi pelayanan kesehatan, serta menggugah keluarga kebutuhan mereka   akan   pelayanan   kesehatan akibat   adanya   salah   satu   keluarga mereka    yang    mengidap penyakit menular TB.

7.     Evaluation

Pelaksana dari Family Folder melakukan kegiatan berupa menilai status kesehatan anggota keluarga pasien, menilai kondisi sosial ekonomi keluarga serta melaksanakan strategi directly observed treatment short course (DOTS) dengan cara kunjungan rumah melalui kader kesehatan atau TB yang ditemani keluarga karena dipastikan akan ada peningkatan perilaku, peningkatan pendidikan, dan pengorganisasian keluarga melalui pendidikan kesehatan keluarga oleh provider kesehatan. Setelah itu, advokasi dan pendidikan kesehatan masyarakat melalui peningkatan sosial kemasyarkatan bisa dilakukan oleh kader TV agar tidak terjadi stigma dan diskriminasi kepada penderita TB dan keluarga, alangkah baiknya jika ada testimoni pada setiap perkumpulan masyarakat yang dilakukan oleh penderita TB yang telah sembuh dengan didampingi oleh kader TB. Selain itu, keberhasilan Family Folder selama ini masih menjadi kebijakan lokal dari setiap pemangku kebijakan wilayah masing-masing tanpa adanya basic teori pengukuran kualitas hidup bagi penderita TB dan keluarga. Kegiatan Family Folder yang telah berhasil selama ini mengkombinasikan antara pelayanan Puskesmas selaku instansi pemerintah dan praktik swasta dengan aktivitasnya rata-rata berkaitan dengan memberikan penyuluhan, menilai status kesehatan anggota keluarga pasien, menilai kondisi sosial ekonomi keluarga serta melaksanakan strategi directly observed treatment short course (DOTS).


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penerapan Teori Taksonomi Bloom Terhadap Perilaku Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan yang Sehat

APLIKASI TEORI HBM (HEALTH BELIEF MODEL) DALAM KASUS PENYADARAN AKAN PENTINGNYA MENJAGA KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA

DIFUSI INOVASI KESEHATAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM JAMBAN ARUM (ANTAR KE RUMAH)