PENERAPAN TEORI BLOOM DALAM EVALUASI MEMBACA BAHASA INDONESIA
Nama : M. SAHRUL
A. SALEH
Kelas : C
NIM :
811421219
Jurusan Kesehatan Masyarakat
PENERAPAN TEORI BLOOM DALAM EVALUASI MEMBACA BAHASA INDONESIA
Konsep
teori taksonomi Bloom dikembangkan pada tahun 1956 oleh Benjamin Bloom, seorang
psikolog bidang pendidikan. Taksonomi berasal dari bahasa Yunani tassein
berarti untuk mengklasifikasi dan nomos yang berarti aturan. Taksonomi berarti
klasifikasi berhirarkhi dari sesuatu atau prinsip yang mendasari klasifikasi.
Dalam hal ini Bloom mengklasifikasikan menjadi tiga kemampuan intelektual yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Dalam pembelajaran tidak hanya menggunakan teori menghafal. Hafalan merupakan tingkat terendah dalam berfikir (thinking behaviors). Tentu masih banyak level lagi yang harus dicapai agar proses pembelajaran dapat menghasilkan siswa yang kompeten dalam bidangnya. Model Taksonomi Bloom yang sudah direvisi telah memetakan proses kognitif yang terjadi dalam pembelajaran kedalam 6 level yang paling rendah sampai level yang paling tinggi yaitu mengingat, mengerti, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, mencipta.
Dalam hal ini akan diulas mengenai teori Bloom yang akan dikaitkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tentang pembelajaran “Membaca”.
1. 1. Mengingat (Remember)
Kemampuan membaca pada tingkat ingatan hanyalah kemampuan sekedar menghendaki siswa/responden/testee untuk menyebutkan kembali fakta, definisi, atau konsep yang terdapat di dalam wacana yang diujikan tanpa harus mengerti atau dapat menilai atau menggunakannya (Ngalim, 2009 : 44). Oleh karena itu, fakta, definisi atau konsep yang terdapat dalam wacana harus dibaca berkali-kali. Pada hakikatnya tes tingkat ingatan tersebut hanya sekedar mengenali, menemukan, dan memindahkan fakta yang ada pada wacana ke lembar jawaban yang dituntut.
2. 2. Memahami (Understand)
Tes pemahaman ini adalah tingkat kemampuan yang mengharapkan atau menuntut siswa/testee untuk dapat memahami arti atau konsep, situasi, serta fakta yang diketahuinya dalam wacana yang dibacanya (Ngalim, 2009 : 44). Pemahaman yang dilakukan pun dimaksudkan untuk memahami isi bacaan, mencari hubungan antarhal, sebab akibat, perbedaan dan persamaan antarhal, dan sebagainya.
3. 3. Menerapkan (Apply)
Dalam tingkat aplikasi atau penerapan, secara umum testee/responden dituntut kemampuannya untuk menerapkan atau menggunakan apa yang telah diketahuinyadalam suatu situasi yang baru baginya. Dengan kata lain, aplikasi adalah penggunaan abstraksi pada situasi konkret atau situasi khusus. Absraksi tersebut dapat berupa ide, teori atau petunjuk teknis
4. 4. Analisis (Analize)
Kemampuan ini menuntut siswa untuk mampu menganalisis atau menguraikan suatu integritas atau informasi tertentu dalam komponen-komponen atau unsur-unsur pembentuk wacana, mengenali, mengindentifikasi, atau membedakan pesan dan atau informasi dan sebagainya yang sejenis. Aktivitas kognitif yang dituntut dalam tugas ini lebih dari sekedar memahami isi wacana. Pemahaman yang dituntut adalah pemahaman yang kritis dan terinci sampai pada bagian-bagian yang lebih khusus.
5. 5. Evaluasi (Evaluate)
Kemampuan membaca pada tingkat evalusai menuntut siswa mampu memberikan penilaian yang berkaitan dengan wacana yang dibacanya, baik yang menyangkut isi atau pemasalahan yang dikemukakan maupun cara penuturan wacana itu sendiri. Penilaian terhadap isi wacana misalnya berupa penilaian terhadap gagasan, konsep, cara pemecahan masalah bahkan menemukan dan menilai bagaimana pemecahan masalah sebaiknya.
6. 6. Mencipta (Create)
Sampai di sini, siswa sudah bisa membaca sendiri dengan dibekali wawasan serta praktik yang sudah dilakukan. Masing-masing siswa diberi tugas untuk membaca bebas.

Komentar
Posting Komentar