PENERAPAN TEORI BLOOM REVISI DALAM PEMBELAJARAN PANTUN DALAM RANAH KOGNITIF
Nama : Rahmatia Indah Chairunnisa Hulukati
NIM : 811421015
Kelas : C/2021 S1-Kesehatan Masyarakat
Mata Kuliah : Promosi Kesehatan
Dosen Pengampu: Ramly Abudi, S.Psi, M.Kes
“PENERAPAN TEORI BLOOM REVISI DALAM PEMBELAJARAN PANTUN DALAM RANAH KOGNITIF”
Ranah kognitif ini merupakan kemampuan yang berkaitan dengan aspek pengetahuan dan penalaran. Pada tahun 1994, salah seorang murid Bloom, Lorin Anderson Krathwohl dan para ahli psikologi aliran kognitivisme memperbaiki taksonomi Bloom agar sesuai dengan kemajuan zaman. Hasil perbaikan tersebut baru dipublikasikan pada tahun 2001 dengan nama Revisi Taksonomi Bloom. Revisi hanya dilakukan pada ranah kognitif. Revisi tersebut meliputi:
1. Mengingat (remembering)
Tahap ini melibatkan proses mengingat kembali hal-hal yang spesifik dan universal, mengingat kembali metode dan proses, atau mengingat kembali pola, struktur atau setting.
Guru mengajak siswa dalam pelajaran untuk mengingat kembali pengetahuan yang sebelumnya mereka dapat. Siswa secara aktif menyebutkan apa yang mereka ketahui tentang pengertian pantun, unsur-unsur pantun, jenis-jenis pantun. Guru berusaha membuka memori ingatan siswa untuk diingat kembali. Siswa diajak untuk membuat buket dari kertas bekas yang isinya tentang materi pantun agar mereka mudah untuk mengingatnya.
2. Memahami (understanding)
Memahami diartikan untuk menegaskan pengertian atau makna bahan-bahan yang sudah diajarkan, mencakup komunikasi lisan, tertulis, maupun gambar.
Setelah siswa sudah mendapatkan materi dari guru, diharapkan untuk bisa memahami apa itu pantun. Mereka mampu menginterpretasikan sebuah benda atau lingkungan untuk mereka jadikan pantun. Misalnya guru menggambar sebuah pemandangan di papan tulis maka siswa diharapkan mampu untuk menginterpretasikan ke dalam sebuah pantun.
3. Menerapkan (applying)
Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, prinsip di dalam berbagai situasi.
Kemudian siswa diajak untuk menerapkan ilmu yang sudah mereka dapatkan. Dari pelajaran yang sebelumnya siswa sudah mampu menjelaskan apa itu pantun dan dapat memahami materi serta perbedaan pantun. Dalam bab ini siswa sudah mampu untuk menerapkan materi yang sudah didapat yaitu membacakan dan berbalas pantun. Siswa tidak hanya mengerti materi saja namun harus bisa mengimplementasikan di dalam kelas. Baik dinilai dari sikap, intonasi serta ekspresi dalam membacakan. Siswa belum diajarkan untuk membuat sendiri namun dengan melihat contoh-contoh pantun mereka dapat memahami dan membaca pantun di dalam kelas.
4. Analisis (analyzing)
Menguraikan sesuatu ke dalam bagian-bagian yang membentuknya, dan menetapkan bagaimana bagian-bagian atau unsur-unsur tersebut satu sama lain saling terkait, dan bagaimana kaitan unsur-unsur tersebut kepada keseluruhan struktur atau tujuan sesuatu itu.
Guru dapat membantu siswa untuk menganalisis pantun yang mereka bacakan. Siswa diajak membuat tabel perbedaan untuk menganalisis unsur-unsur intrinsik. Guru membagi siswanya menjadi beberapa kelompok dengan cara memberikan emotikon yang berbeda kepada siswa. Emotikon yang sama itulah kelompok mereka. Dari tiap-tiap emotikon sudah ada daftar analisis apa yang harus mereka cari. Guru menyiapkan beberapa pilihan pantun untuk mereka analisis.
5. Menilai (evaluating)
Tahap ini menentukan nilai materi dan metode untuk tujuan tertentu. Menilai bersangkutan dengan penentuan secara kuantitatif atau kualitatif tentang nilai materi atau metode untuk sesuatu maksud dengan memenuhi tolak ukur tertentu.
Setelah siswa selesai menganalisis guru melakukan penilaian dengan berdiskusi bersama. Dari berbagai kelompok dengan tema pantun yang berbeda disatukan dalam forum diskusi bersama sehingga masing-masing siswa mampu memahaminya. Telah disiapkan pantun dengan tema lingkungan sekitar, untuk teman sebaya, serta alam. Siswa juga diajak untuk menilai teman lain, guru mempersiapkan rubrik sebagai penilaian.
6. Mencipta (creating)
Tahap ini adalah tahap paling tinggi dimana seseorang bisa menciptakan atau membangun sebuah struktur baru dari bagian-bagian tertentu. Ini menjadi kemampuan tertinggi yang bisa dimiliki oleh seseorang dalam proses pembelajaran yang ia lalui.
Sampai di sini, siswa sudah bisa untuk membuat pantun sendiri dengan dibekali wawasan serta praktik yang sudah dilakukan. Masing-masing siswa diberi tugas untuk membuat pantun bebas.

Komentar
Posting Komentar