Pengaplikasian The Transtheoritical Model dalam Masalah Penyalahgunaan obat-obat terlarang (Narkoba)
Nim
: 811421032
Kelas
: C/2021 S1 Kesehatan Masyarakat
Mata
Kuliah : Promosi Kesehatan
Dosen
pengampuh : Ramly Abudi S.Psi, M.kes
Pengaplikasian The Transtheoritical Model dalam Masalah Penyalahgunaan obat-obat terlarang (Narkoba)
The
Transtheoretical Model menurut Prochaska dan Diclement (1983) adalah suatu
model yang integratif tentang suatu perubahan perilaku. Model ini merupakan
kunci pembangun dari teori lain yang terintegrasi. Model ini menguraikan
bagaimana orang-orang memodifikasi perilaku masalah atau memperoleh suatu
perilaku yang positif dari perubahan perilaku tersebut. Model ini adalah suatu
perubahan yang disengaja untuk mengambil suatu keputusan dari individu
tersebut. Model ini juga melibatkan emosi, pengamatan dan perilaku, serta
melibatkan pula suatu kepercayaan diri.
Model
Transtheoretical adalah model perubahan yang disengaja, yaitu model yang
berfokus pada pengambilan keputusan individu. Pendekatan lain untuk promosi
kesehatan telah berfokus terutama pada pengaruh sosial terhadap perilaku atau
pengaruh biologis terhadap perilaku. Untuk merokok, sebuah contoh dari pengaruh
sosial akan menjadi model pengaruh kelompok sebaya atau perubahan kebijakan.
Contoh pengaruh biologis akan model pengaturan nikotin dan terapi penggantian
(substitusi). Dalam konteks model transtheoretical, ini dipandang sebagai
pengaruh luar, berdampak melalui individu.
Transtheoretical model mengemukakan lima
tahap. Melalui tahap tahap ini, seseorang dapat berubah ke arah perilaku sehat
jangka panjang yang positif. Lima tahap tersebut adalah:
1) Pra
Kontemplasi (belum menyatakan/ belum siap untuk berubah)
2) Kontemplasi
(mempertimbangkan untuk berubah)
3) Persiapan
(komitmen yang serius untuk berubah)
4) Aksi
(perubahan dimulai)
5) Pemeliharaan
(mempertahankan perubahan)
Berikut cara pengaplikasian Transtheoretical Model melalui lima tahap dalam masalah penyalahgunaan obat-obat terlarang (Narkoba) :
· Pada stage pre-contemplation, individu belum menyadari bahwa penyalahgunaan narkoba memiliki dampak merugikan bagi dirinya maupun orang di sekitarnya. Atau ia sudah menyadarinya namun tetap tidak menghiraukan hal tersebut.
· Pada stage contemplation, individu
akhirnya menyadari tindakannya. Ia juga mulai memikirkan kelebihan maupun
kekurangan menjadi pecandu narkoba itu. Ia memikirkan dampak buruk narkoba yang
akan terjadi pada dirinya, dan orang-orang disekitarnya. Ia memikirkan bahwa ia
akan dikucilkan di masyarakat atau bisa saja dijebloskan kedalam penjara.
· Pada stage preparation individu mulai
mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan untuk merubah kebiasaannya menggunakan
obat terlarang seperti menyusun rencana untuk merubah kebiasaan menjadi
kegiatan lain yang bermanfaat dan berniat untuk tidak menggunakan obat
terlarang lagi.
· Pada stage Action, seseorang mulai
menjalankan rencananya untuk melakukan pemeriksaan terlebih dahulu guna
mengetahui seberapa jauh kecanduan yang dialami. Cara selanjutnya yakni detoksifikasi
pada tahapan ini, seseorang diminta untuk berhenti menggunakan obat-obatan
terlarang. Untuk meringankan efek ketergantungan obat dokter akan memberikan
obat-obatan seperti metadon, buprenofin, atau naltrexone.
· Pada stage Maintenance, seseorang harus
menjaga kontinuitas dari berhenti menggunakan narkoba. Jika dalam kurun waktu
tertentu perilaku ini dijaga, maka kebiasaan tidak menggunakan obat terlarang
akan menjadi sesuatu yang menetap. Dukungan dari orang terdekat pun berperan
penting dalam proses pemulihan.
· Dan pada stage Termination, perilaku ini
sudah menetap dan tidak akan hilang. Perilaku ditandai sudah masuk ke stage ini
jika tidak lagi dibutuhkan pemotivasian dan serangkaian reinforcement. Perilaku
menjadi suatu kebutuhan yang memang harus dipenuhi oleh orang tersebut.

Komentar
Posting Komentar