Perilaku Kesehatan Lansia Dengan Diabetes Melitus Berdasarkan Teori Health Belief Model
NIM: 811421084
Kelas: C/2021 S1 Kesehatan Masyarakat
Mata Kuliah: Promosi Kesehatan
“PERILAKU
KESEHATAN LANSIA DENGAN DIABETES MELITUS BERDASARKAN TEORI HEALTH BELIEF MODEL”
Menurut
teori health belief model perilaku diabetes melitus ini berasal dari interaksi
persepsi dan kepercayaan terhadap status kesehatan lansia dengan diabetes
melitus (Priyoto, 2014).
Diabetes Melitus atau yang biasa disebut dengan DM adalah
penyakit kronis progresif ditandai dengan ketidakmampuan tubuh untuk melakukan
metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, mengarah ke hiperglikemia (kadar
glukosa darah tinggi). Lansia
dengan diabetes melitus diharapkan memiliki persepsi tentang bagaimana dirinya
rentan akan kondisinya untuk jatuh dalam kondisi komplikasi; bagaimana jika
tingkat keparahan meningkat menjadi lebih serius; apakah manfaat jika
mengadopsi perilaku kesehatan yang baik, seperti mengikuti penatalaksanaan
diabetes melitus; dan ketika mengadopsi perilaku kesehatan tersebut apakah
hambatan yang akan terjadi, tetapi tetap memikirkan bahwa manfaat yang didapat
lebih banyak daripada hambatan yang akan dialami sehingga tetap merubah menjadi
perilaku baik; ditambah dengan variabel-variabel yang dimodifikasi sehingga
dapat menjadi perilaku kesehatan.
Menurut
Priyoto (2014), teori Health Belief Model ada 6 hal yang dipengaruhi modifying variable
sehingga dapat terbentuk likelihood of behaviour. Dan berikut 6 komponen dari perilaku kesehatan lansia
dengan diabetes melitus:
·
Perceived
Susceptibility
Kerentanan adalah salah satu persepsi yang lebih kuat lansia dengan diabetes melitus dalam mendorong orang untuk mengadopsi perilaku sehat. Didukung dengan kurangnya keyakinan responden jika diabetes tidak terkontrol akan menyebabkan komplikasi yang bisa saja mengancam hubungan dengan orang yang di kasihi, kemudian sering mengabaikan rasa sakit, kurang mempercayai bahwa minum obat secara rutin akan membantu mencegah komplikasi dan kurang taat dalam memiliki pantangan makanan. Dari hasil ini artinya perceived susceptibility belum nampak pada responden. Sehingga untuk menghadapi hal ini diperlukan dorongan untuk merubah perilaku kesehatannya sesuai dengan persepsi kerentanan yang dirasakan.
·
Perceived
Severity
Hasil ini dapat terjadi karena terdapat interaksi antar persepsi yang juga didorong oleh modifying variable. Dibuktikan dengan lebih dari 50% responden ragu-ragu/tidak tahu dalam mendapat informasi tentang penyakit diabetes memiliki dampak yang serius sehingga responden kurang meyakini bahwa akan muncul kesulitan-kesulitan akibat penyakit yang diderita. Tingkat persepsi seseorang akan keparahan menjadi berbeda dibandingkan dengan yang sudah mendapat informasi medis atau pengetahuan, juga dapat berasal dari keyakinan seseorang bahwa ia akan mendapat kesulitan akibat penyakit dan akan membuat atau berefek pada hidupnya secara umum. Sehingga dalam menghadapi kondisi dan tingkat keparahan yang dihadapinya responden cenderung untuk memiliki perilaku kesehatan yang kurang baik.
·
Perceived Benefit
Hal tersebut senada dengan keyakinan mengontrol kadar gula secara mandiri akan memberi keuntungan, dikarenakan minimnya setiap responden memiliki alat pengukur kadar gula sendiri, sehingga pengontrolan kadar gula dilakukan saat ada keluhan. Hal ini karena mereka belum percaya akan keuntungan yang didapatkan apabila mengadopsi perilaku kesehatan tersebut. Orang-orang cenderung mengadopsi perilaku yang lebih sehat ketika mereka percaya bahwa perilaku yang baru tersebut akan mengurangi resiko mereka terserang sebuah penyakit. (Hayden, 2009). Kecenderungan yang terjadi ketika seseorang mencari saran lain kepada seseorang atau hal-hal yang dirasa baik, bahkan hal yang paling irasional yang perlu dilakukan adalah membuat mereka harus percaya ada sebuah keuntungan mengadopsi perilaku yang sesuai dengan sumber yang benar, seperti memberikan arahan untuk melakukan pemeriksaan di posyandu lansia atau di puskesmas.
·
Perceived Barrier
Ini terjadi didukung dengan responden merasa tidak mampu untuk mengontrol pikiran yang stres, tidak periksa ke dokter/puskesmas karena takut, tidak datang posyandu karena malu, selalu ingin makan makanan yang manis dan merasa tidak mampu untuk mengikuti penatalaksanaan kesehatan dari layanan kesehatan. Dibuktikan dengan mayoritas responden penelitian ini tidak mengikuti senam diabetes yaitu sebanyak 50 responden (90,9%). Tingginya tingkat hambatan membuat responden merasa baik-baik saja dengan perilaku kesehatan yang sudah biasa dilakukan. namun jika mereka meyakini bahwa senam diabetes secara rutin akan memberikan keuntungan maka dengan sangat mudah untuk mendapatkan lansia yang rutin mengikuti senam diabetes.
·
Cues To Action
Dibutuhkan pemberian pengetahuan pada responden dan lingkungan sekitar untuk dapat memberikan dampak pada perilaku kesehatan yang benar dan tepat. Hal ini dimaksudkan untuk dapat memantau dan mengarahkan supaya melakukan perilaku kesehatan yang baik dan diharapkan perubahan perilaku kesehatan responden akan terus menuju ke arah yang menguntungkan. Dimana sejalan dengan penelitian tentang pendampingan keluarga efektif terhadap tingkat kemandirian keluarga dan kadar gula darah menjadi stabil (Istikharoh, 2015).
·
Self-efficacy
Lansia penderita penyakit diabetes melitus untuk selalu memperhatikan perilaku kesehatan baik, dan menghindari makanan yang tidak boleh dikonsumsi (taat akan diet yang ditentukan). Sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan dan mengurangi resiko komplikasi.
Lansia dengan
diabetes melitus membutuhkan penanganan yang tepat bukan hanya penanganan dari
segi medis maupun keperawatan tetapi juga peran serta individu tersebut dalam
memanage kesehatannya. Lansia dengan diabetes melitus diharapkan memiliki
perilaku kesehatan yang baik agar kadar gula dalam tubuhnya terjaga stabil, dan
dengan demikian tidak timbul komplikasi akut maupun kronik (Corwin, 2009).

Komentar
Posting Komentar