Perilaku Pemberian ASI Eksklusif dengan aplikasi Theory Reaction Action (TRA) atau Theory Planned Behavior (TPB)
Nim. : 811421078
Kelas : C
Kelompok 3 : Theory Reaction Action (TRA) atau Theory Planned Behavior (TPB)
S1 Kesehatan Masyarakat
Perilaku Pemberian ASI Eksklusif dengan aplikasi Theory Reaction Action (TRA) atau Theory Planned Behavior (TPB)
ASI adalah satu jenis makanan yang mencukupi seluruh unsur kebutuhan bayi baik fisik, psikologi, sosial maupun spiritual. ASI mengandung nutrisi, hormon, unsur kekebalan pertumbuhan, anti alergi, serta anti inflamasi. Nutrisi dalam ASI mencakup hampir 200 unsur zat makanan (Hubertin, 2004). ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain, seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, dan air putih, serta tanpa tambahan makanan padat, seperti pisang, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan nasi tim, kecuali vitamin dan mineral dan obat (Roesli, 2000). Selain itu, pemberian ASI eksklusif juga berhubungan dengan tindakan memberikan ASI kepada bayi hingga berusia 6 bulan tanpa makanan dan minuman lain, kecuali sirup obat. Setelah usia bayi 6 bulan, barulah bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI, sedangkan ASI dapat diberikan sampai 2 tahun atau lebih (Prasetyono, 2005) Menurut Depkes (2003) akibat bila bayi tidak diberi ASI yaitu bayi tidak memperoleh zat kekebalan sehingg mudah mengalami sakit, bayi juga tidak mendapatkan makanan bergizi dan berkualitas tinggi sehingga akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan kecerdasannya. Selain itu akibat pada ibu yang tidak memberikan ASI pada banya yaitu perdarahan setelah persalinan akan menjadi lama dan beresiko terkena kanker payudara dan kanker rahim. Berdasarkan data Susenas tahun 2004-2008 cakupan pemberian ASI ekslusif di Indonesia berfluktuasi dan cenderung mengalami penurunan. Cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan turun dari 62,2% (2007) menjadi 56,2% tahun 2008, sedangkan pada bayi sampai 6 bulan turun dari 28,6% (2007) menjadi 24,3% (2008) (Minarto, 2011). Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 1997-2007 memperlihatkan terjadinyapenurunan prevalensi ASI eksklusif dari 40,2% pada tahun 1997 menjadi 39,5% dan 32% pada tahun 2003 dan 2007 (Fikawati dan Syafiq, 2010). Pengeluaran ASI merupakan suatu interaksi yang sangat kompleks antara rangsangan mekanik, saraf dan bermacam-macam hormon. Kemampuan ibu dalam menyusui/laktasipun berbeda-beda. Sebagian mempunyai kemampuan yang lebih besar dibandingkan yang lain. Laktasi mempunyai dua pengertian yaitu pembentukan ASI (Refleks Prolaktin) dan pengeluaran ASI (Refleks Let Down/Pelepasan ASI) (Maryunani, 2009) Faktor-Faktor Yang Memerpengaruhi Ketidakberhasilan ASI Eksklusif, ada factor internal maupun eksternal dan budaya. Ketidakberhasilan pemberian ASI eksklusif kian menyebar dari daerah perkotaan menuju pedesaan diakibatkan dengan adanya komunikasi antar kota dan desa, komunikasi tersebut berupa promosi susu formula yang genca dilakukan di media massa, dan pemberian susu formula juga mulai dijadikan status, dengan demikian memungkinan ibu bisa saja mengurungkan niatnya untuk memberikan ASI eksklusif. Mengingat besarnya manfaat dari pemberian ASI Eksklusif dan juga kerugian yang ditimbulkan dari ketidak berhasilan pemberian ASI eksklusif, maka dari itu dirasa perlu bagi peneliti untuk mengetahui keterkaitan teori niat dengan pemberian ASI Eksklusif oleh ibu.
Salah satu intervens kunciuntuk mencegah kematian bayi yaitudengan pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif selama enam bulan. Bayi yang mendapat ASI Eksklusif sampai 6 (enam) bulan memiliki ketahanan hidup lebih lama dari pada bayi yang tidak mendapat kannya sehingga ASI mampu memperkecil risiko kematian bayi. Menurut WHO (2001) pemberian ASI Eksklusif adalah bayi yang menyusui ASI saja tanpa ada penambahan cairan atau padatan selain vitamin, mineral,suplemen atau obat-obatan. Dalam rangka menurunkan angka kesakitan dan kematian anak, United Nation Childrens Fund (UNICEF) dan World Health Organization (WHO, 2001) merekomendasikan pemberian ASI Eksklusif selama paling sedikit enam bulan pertama kehidupan bayi, dan mulai dengan makanan pelengkap setelah bulan ke enam dan terus menyusui sampai bayi berusia dua tahun. Pemberian ASI Eksklusif sebagai upaya pencapaian tujuan kedua Sustainable Development Goals (SDGs) 2016-2030 yaitu mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan meningkatkan gizi.
1. Menurut PBB keberhasilan pemberian ASI Eksklusif sebagai upaya perbaikan gizi lanjutan dari keberhasilan bidang penyediaan makanan, perubahan perilaku dan peningkatan pengetahuan, serta berbagai factor determinan lainnya (United Nations, 2015). Bukti menunjukkan bahwa 60% mortalitas balita disebabkan oleh kekurangan gizi (langsung atau tidaklangsung), lebih dari dua pertiga dari mereka terkait dengan praktik menyusui selama masa bayi. Diperkirakan menyusui yang tidak optimal, terutama menyusui tidak eksklusif dalam enam bulan pertama kehidupan, menyebabkan 1,4juta kematian dan 10%penyakit pada usia dibawah lima tahun (Balita). Pada bayi usia0-5 bulan meningkatkan risiko kematian lebih dari dua kali lipat akibat diare dan pneumonia. Dampak buruk yang dapat di timbulkan akibat tidak memberikan ASI Eksklusif dalam jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolism dalam tubuh. Sedangkan dalam jangka panjang adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi sekolah yang buruk, penurunan produktivitas, dan gangguan perkembangan intelektual dan sosial,menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan risiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke,dan disabilitas pada usia tua (WorldHealth Organization, 2000, 2009).Kendala dalam pemberian ASI adalah susu formula, sosial budaya dan wanita bekerja. Namun, telah ada kebijakan yang merespon ASI eksklusif, kode etik pemasaran susu formula dan peningkatan ASI pada pekerja wanita (Helda,2009). Permasalahan terkait pencapaian cakupan ASI Eksklusif di Provinsi Jawa Tengah antara lain: (1)Pemasaran susu formula masih gencardilakukan untuk bayi 0-6 bulan yang tidak ada masalah medis.
2. Masih banyaknya perusahaan yang mempekerjakan perempuan tidak memberi kesempatan bagi ibu yang memiliki bayi 0-6 bulan untuk melaksanakan pemberian ASI secara eksklusif Hal ini terbukti dengan belum tersedianya ruang laktasi dan perangkat pendukungnya.
3. Masihbanyak tenaga kesehatan di tingkat layanan yang belum peduli atau belum berpihak pada pemenuhan hak bayi untuk mendapatkan ASI Eksklusif, yaitu masih mendorong untuk member susu formula pada bayi 0-6 bulan.
4. Masih sangat terbatasnya tenaga konselor ASI.
5. Belum maksimalnya kegiatan edukasi, sosialisasi, advokasi, dan kampanye terkait pemberian ASI, dan belum semua rumah sakit melaksanakan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui [LMKM] (Dinas KesehatanProvinsi Jawa Tengah, 2016).
Kendala lain adalah petugas kesehatan di layanan kesehatan ada yang masih belum mendukung inisiasi menyusui dini (IMD) yang berakibat ASI tidak lancar dan akhirnya tidak ASI eksklusif. Padahal petugas kesehatan wajib memberikan dan / atau memfasilitasi Ibu dan bayi untuk melakukan proses IMD. Bayi yang diberi kesempatan menyusui dini lebih berhasil menyusui eksklusif dan akan lebih lama disusui. IMD merupakan faktor yang dominan terhadap keberhasilan menyusui. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang. pemberian ASI Eksklusif memposisikan Ibu dan Keluarga sebagai aktor utama keberhasilan pemberian ASI Ekslusif. Peran ibu adalah Ibu berhak untuk menyusui bayinya kapan pun dimanapun, untuk dapat memenuhi hak Bayi untuk menyusui kapan pun dimanapun demi tumbuh kembang bayi yang optimal. Peran tenaga kesehatan dan penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah menentukan indikasi medis dapat tidaknya pemberian ASI dilakukan oleh ibu dan bayi (Pasal 7 PP ASI), memberikan dan/atau memfasilitasiIbu dan bayi untuk melakukan proses IMD, menempatkan ibu dan bayi dalam satu ruangan atau rawat gabung 24 jam kecuali tenaga kesehatan mendiagnosa secara nyata terdapat indikasi medis yang membuat rawat gabung tidak dapat dilaksanakan demi keselamatan ibu dan bayi, memberikan informasi dan edukasi mengenai ASI Eksklusif kepada Ibu dan/atau anggota keluarga dari bayi sejak pemeriksaan kehamilan sampai dengan periode pemberian ASI Eksklusif selesai, dan melakuan pendampingan melalui pemberian dukungan moril, bimbingan, bantuan,dan pengawasan ibu dan bayi selama kegiatan IMDdan/atau selama masa menyusuieksklusif.. Peran stakeh olderdan / atau bentuk dukungan masyarakat untuk dapat mendukung keberhasilan pemberian ASI Eksklusif adalah :
1. Masyarakat harus mendukung keberhasilan program pemberian ASI Eksklusif baik secara perorangan, kelompok, maupun organisasi. Dukungan dimaksud dapat dilaksanakan melalui :
• Pemberian sumbangan pemikiran terkait dengan penentuan kebijakan dan / atau pelaksanaan program pemberian ASI Eksklusif;
• penyebarluasan informasi kepada masyarakat luas terkait dengan pemberian ASI Eksklusif;
• pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program pemberian ASI Eksklusif; dan/atau
• penyediaan waktu dan tempat bagi ibu dalam pemberian ASI Eksklusif.
2. Pelaksanaan dukungan dari masyarakat dilakukan dengan berpedoman pada 10 (sepuluh) langkah menuju keberhasilan menyusui untuk masyarakat. Penelitian ini mengaplikasikan Theory of Planned Behaviour (TPB,Teori Perilaku Direncanakan ) menyatakan bahwa keyakinan perilaku individu, keyakinan normatif dan keyakinan pengendalian masing-masing menentukan terhadap perilaku. Sikap, norma subjektif dan persepsi kendali perilaku secara kolektif memengaruhi niat perilaku dan perilaku aktual individu ketika keputusan dalam suatu tindakan bersifat sukarela dan di bawah control individu. Menurut TPB perilaku adalah fungsi dari niat untuk melakukan perilaku
(Ajzen I, 1991). Menurut Ajzen (1991) sikap adalah sejauh mana seseorang memiliki evaluasi yang menguntungkan atau tidak menguntungkan dari perilaku. Sementara itumenurut Hamilton Ketal. (2011) sikap adalah keyakinan yang dimiliki seseorang terhadap konsekuensi atas perilaku yang telah dilakukan. Penilaian tersebut bisa berupa penilaian positif atau negatif. Sementara itu, norma subjektif adalah persepsi seseorang terhadap tekanan sosial yang ada dilingkungannya untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang dipertimbangkan; berhubungan dengan keputusan normatif yang dirasakan dari perilaku.
Tekanan social berhubungan dengan keputusan seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku (Hamilton Ket al.,2011). Sejauh mana seseorang memiliki motivasi untuk mengikuti pandangan orang terhadap perilaku yang akan dilakukannya. Dalam hal ini individu merasa mendapatkan tekanan dari orang di luar dirinya untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan. Kalau individu merasa itu adalah hak pribadinya untuk menentukan apa yang akan dia lakukan, bukan ditentukan oleh orang lain di sekitarnya, maka dia akan mengabaikan pandangan orang tentang perilaku yang akan dilakukannya (Ajzen I,1991;Hamiltonet al.,2011). Persepsi kendali perilaku (perceived behavioral control) adalah ada atau tidaknya sumber daya dan kesempatan yang diperlukan, persepsi individu dari kemudahan atau kesulitan dalam melakukan perilaku (Hamilton Ket al.,2011). Individu mempunyai kendali terhadap perilaku dan mempunyai kepercayaan untuk mengendalikan perilaku. Sejauh mana ibu menyusui merasa mampu untuk melakukan pemberian ASI eksklusif Sejauh mana ibu merasaka bahwa perilaku pemberian ASI Eksklusif dibawah pengendaliannya. Tingkat kemudahan atau kesulitan yang diantisipasi mengembangkan niat untuk memberikan ASI Eksklusif dan kepercayaan diri dalam kemampuan untuk melaksanakan pemberian ASI Eksklusif. Persepsi kendali perilaku diartikan sama dengan efikasi diri, yaitu keyakinan bahwa individu pernah melaksanakan atau tidak pernah melaksanakan perilaku tertentu, individu memiliki fasilitas dan waktu untuk melakukan perilaku itu, kemudian individu melakukan estimasiatas kemampuan dirinya apakah dia punya kemampuan atau tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakan perilak tersebut Ibu yangmempunyai kepercayaan diri terhadap menyusui, akan lebih siap dalam menghadapi masalah menyusui.Tetapi kepercayaan diri ibu juga berhubungan dengan beberapa dimensi, antara lain status kesehatan ibu, pekerjaan, pengetahuan tentang menyusui, budaya, pendidikan, dan karir. Apresiasi ibu terhadap menyusui dan persepsi ibu terhadap manfaat dari menyususi akan meningkatkan niat ibu dalam memberikan ASI Eksklusif (Mutuli LA & Walingo MK, 2014). Niat adalah tingkat kepastian tentang praktek perilaku (sepertipemberian ASI eksklusif) sebagai prediktor utama perilaku. Niat dipahami menangkap dimensi motivas iyang berhubungan dengan perilaku (Ajzen,1991).

Komentar
Posting Komentar