Strategi Promosi Kesehatan Dalam Mensosialisasikan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Kepada Masyarakat Dalam Teori Precede Proced

 



Nama : Sri Abel W Tahir

Nim : 811421047

Kelas : C

Kesehatan Masyarakat Semester 2

 

 

Strategi promosi kesehatan dalam mensosialisasikan perilaku hidup bersih dan sehat kepada masyarakat dalam teori Precede Proced

 

PRECEDE merupakan panduan dalam menganalisis atau mendiagnosis serta evaluasi perilaku dalam pendidikan promosi kesehatan. Sedangkan, PROCEED merupakan panduan dalam merencanakan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi dalam promosi kesehatan. (Notoatmodjo, 2010).

1.      Fase Pertama (Diagnosis Sosial)

Menganalisis kualitas hidup individu atau masyarakat yang sumbernya langsung dari masyarakat. Pada fase ini puskesmas colomadu II menganalisis kualitas hidup masyarakat yang ada di wilayah kerjanya. Berdasarkan hasil yang telah ditemukan, peneliti melihat bahwa puskesmas colomadu II dalam mengumpulkan data mengenai permasalahan sosial masyarakatnya langsung terjun ke masyarakat dengan survei PHBS di tiap-tiap rumah dan disaat yang bersamaan dilakukan wawancara terdapat masalah kesehatan. Nantinya data-data yang didapat dari masyarakat itu kemudian diolah untuk menetapkan masalah kesehatan mana yang harus ditangani terlebih dahulu. Informan pertama menjelaskan bahwa kualitas hidup perkotaan itu padat dengan penduduk, dengan begitu banyak penyakit menular yang diakibatkan oleh lingkungan seperti tbc, db dan diare.

2.      Fase Kedua (Diagnosis Epidemiologi)

Pada fase kedua ini, menganalisis masalah-masalah apa saja yang mempengaruhi kualitas hidup dari masyarakat. Permasalahan yang dianalisis berupa epidemiologi, perilaku dan lingkungan sekitar sehingga dapat mempengaruhi kualitas hidup dari individu dan masyarakat. Informan menjelaskan bahwa masalah epidemiologi seperti db yang mempengaruhi kualitas hidup dari masyarakat. Kualitas kesehatan masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh epidemiologi yang terjadi, melainkan dari perilaku individu dan masyarakat sendiri

3.      Fase Ketiga (Diagnosis Perilaku dan Lingkungan)

Pada fase ketiga ini dilakukannya diagnosis analisis perilaku dan lingkungan yang menyebabkan terjadinya epidemiologi di masyarakat sehingga tidak terwujudnya derajat kesehatan. Tahapan ini berperan dalam membantu promotor kesehatan mengintervensi perilaku dan lingkungan di masyarakat. Informan menuturkan bahwa perilaku merupakan pendorong berkurangnya kualitas hidup masyarakat, perilaku yang dimaksud seperti bersikap masa bodoh terhadap penyakit yang ia derita dan tidak memperiksakan segera mungkin. Permasalahan terkait sampah juga merupakan faktor perilaku dan lingkungan yang menyebabkan menurunnya kualitas hidup seseorang. Selain itu hasil limbah rumah tangga yang tidak dikelola secara benar ikut mempengaruhi kualitas hidup masyarakat,

Faktor perilaku dan lingkungan mendukung terjadinya epidemiologi di masyarakat sehingga tidak tercapainya derajat kesehatan. Apabila ditelisik kembali fase 2 masalah sampah menjadi masalah lingkungan yang serius, Perilaku selanjutnya yang mempengaruhi epidemiologi di masyarakat adalah kurang pedulinya masyarakat sekitar terhadap penderita sehingga mengabaikannya. Masyarakat ketika batuk tidak segera berobat ke faskes, namun lebih memilih membeli obat di warung. Selain itu kebersihan rumah dan lingkungan sekitar penderita TBC kurang.Persoalan mitos budaya yang tidak mendukung juga menjadi permasalahan lingkungan yang dihadapi dalam promosi kesehatan, walaupun masyarakat hidup di perkotaan masih memegang teguh mitos budaya. Sosial ekonomi yang kurang juga dikategorikan kedalam permasalahan lingkungan, sebab tingkat ekonomi seseorang ikut mempengaruhi individu dalam bertindak di lingkungan sosialnya.

4.      Fase Keempat (Diagnosis Pendidikan dan Organisasional)

Pada fase keempat ini faktor pendidikan dari tiap individu di masyarakat mempengaruhi derajat kesehatannya. Latar belakang pendidikan tiap individu tidaklah sama, pendidikan seseorang semakin tinggi maka, derajat kesehatan yang ia peroleh akan semakin tinggi begitu  sebaliknya

 

5.      Pada fase kelima

            ini menganalisis kebijakan, sumber daya, dan peraturan berlaku yang menghambat dan memfasilitasi kegiatan dari promosi kesehatan. Berikut beberapa hal yang menghambatnya kegiatan promosi kesehatan salah satunya datang dari sumber daya. Kepala bagian Promosi Kesehatan di Puskesmas Colomadu II dipegang oleh petugas bagian perawat yang merangkap jabatan kepala promosi kesehatan dengan gelar d3 Keperawatan. Setidaknya untuk kegiatan promosi kesehatan di kepalai oleh orang bergelar S1 jurusan Kesehatan Masyarakat yang lebih berkompeten dalam teori promosi kesehatan dan pelaksanaannya.

Dengan tidak adanya petugas khusus dari promosi kesehatan membuat petugas puskesmas lainnya ambil bagian dalam promosi kesehatan, sedangkan ketika sampiran tidak menjadi tugas pokok dari petugas sehingga kurang maksimal. Kurangnya media penyuluhan sebagai media komunikasi leaflet, brosur menjadi penghambat kegiatan dalam menyampaikan pesan visual agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat. Petugas tidak bisa selalu hadir yang disebabkan kesibukan masing-masing dan terkadang jadwal yang sudah dijadwalkan juga terdapat bentrok, sehingga membuat petugas tidak hadir juga. Kepala Desa tidak menggelontorkan dana untuk kegiatan pertemuan desa siaga, sehingga pertemuan terjadi jika ada dana dari Dinas Kesehatan.

Sedangkan, untuk analisis kebijakan, sumber daya, dan aturan yang memfasilitasi kegiatan promosi kesehatan menurut informan pembuat kebijakan selalu mengikuti apa yang dibutuhkan oleh pihak puskesmas terkait kebijakan yang mendukung program. Karena, sebelumnya sudah dilakukan lobbying politik di tahap advokasi sehingga pembuat kebijakan sudah menyetujui untuk ikut mendukung kegiatan promosi kesehatan

6.      Fase Keenam (Evaluasi Proses)

Pada fase keenam ini melakukan evaluasi terhadap proses promosi kesehatan. Evaluasi dilakukan untuk melihat kekurangan yang ada sehingga dapat diatasi untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Pada tahap evaluasi ini pembagian waktunya adalah evaluasi pra promosi kesehatan, evaluasi yang dilakukan sewaktu berlangsungnya promosi kesehatan, dan evaluasi yang dilakukan setelah selesainya kegiatan promosi kesehatan. Informan menjelaskan bahwa terdapat kendala dan hambatan yang ditemui dalam kegiatan promosi kesehatan yang bersumber dari tenaga kesehatannya. Puskesmas Colomadu II tidak memiliki tenaga khusus yang membidangi promosi kesehatan, dengan begitu untuk melengkapi formasi itu dilakukan pekerjaan sampiran untuk melengkapi formasi promosi kesehatan agar tetap dapat berjalan

7.      Fase Ketujuh (Evaluasi Hasil)

Di fase ketujuh ini mencoba untuk mengevaluasi hasil dari kegiatan promosi kesehatan, evaluasi meliputi sejauh mana perubahan yang sudah terjadi pada faktor predisposisi, faktor pemungkin dan faktor penguat. Informan menjelaskan bahwa pada tahap predisposisi setidaknya terdapat perubahan dari segi pengetahuan kesehatan yang awalnya tidak tahu menjadi tahu

8.      Fase Kedelapan (Evaluasi Dampak)

Pada tahapan akhir dari evaluasi Procede, dilakukan evaluasi dampak yang dihasilkan dari kegiatan promosi kesehatan. Fase kedelapan ini ingin melihat sejauh mana perubahan epidemiologi dan status kesehatan masyarakat

 

Strategi Promosi Kesehatan Puskesmas

1.      Advokasi (Advocacy)

Advokasi adalah kegiatan komunikasi persuasif untuk mempengaruhi kebijakan publik terkait kesehatan baik pemerintah maupun swasta. Salah satu kegiatan dari advokasi ini adalah lobbying, presentasi dan seminar dengan tujuan memperoleh dukungan terhadap kebijakan program kesehatan yang dilakukan (Notoatmodjo, 2012)

2.      Dukungan Sosial (Social Support)

Dukungan Sosial adalah upaya dalam menciptakan opini di lingkungan sosial untuk mendorong individu dalam berperilaku (Subaris, 2016). Contoh dari kegiatan ini adalah pelatihan tokoh masyarakat dan agama, seminar, penyuluhan dan lain sebagainya.

3.      Pemberdayaan Masyarakat (Empowerment)

Pemberdayaan Masyarakat merupakan strategi promosi kesehatan yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan. Pemberdayaan adalah kegiatan membantu sasaran dalam memberikan informasi secara terus menerus agar meningkatkan pengetahuan sasaran yang dituju, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tahu menjadi mau, dari yang mau menjadi mampu merubah atau melaksanakan perilaku yang dikenalkan oleh agen perubahan (Subaris, 2016).

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penerapan Teori Taksonomi Bloom Terhadap Perilaku Masyarakat Dalam Pengendalian Lingkungan yang Sehat

APLIKASI TEORI HBM (HEALTH BELIEF MODEL) DALAM KASUS PENYADARAN AKAN PENTINGNYA MENJAGA KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA

DIFUSI INOVASI KESEHATAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM JAMBAN ARUM (ANTAR KE RUMAH)